Tampilkan postingan dengan label Tafakur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafakur. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Maret 2017

Madrasah Lebih Baik, Lebih Baik Madrasah


Oleh: Anis Munawaroh XI-IPA & Andini Oktavia (IX-D)

Menghilangnya kesan bahwa madrasah bukan pendidikan kelas dua tidaklah mudah. Walaupun kadang pembandingnya tidak seimbang. Satu sisi sekolah dikatakan lebih unggul dari madrasah, padahal negeri ini jelas-jelas hampir tidak pernah absen memperhatikan lembaga madrasah karena sifat dan karakter madrasah berbeda dengan sekolah. Sementara madrasah baru diperhatikan secara serius utamanya setelah dikeluarkannya UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Itupun belum merambah pada keseluruhan aspek yang dibutuhkan bagi keadilan perlakuan pendidikan dinegri ini.
Transformasi dari madrasah pinggiran menjadi madrasah kelas menengah. Dari madrasah kumuh menjadi madrasah kukuh. Dari madrasah kelas dua menjadi pilihan utama. Tidak heran jika Direktorat Madrasah Ditjen Pendidikan Islam Kementrian Agama RI membuat slogan “Madrasah lebih baik, lebih baik madrasah” Meskipun demikian, untuk di daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) masih terdapat madrasah yang baru pada tahap pencarian jati diri, kemudahan akses dan belum pada pola berpikir tentang mutu. Biasanya masalah yang dihadapi mereka adalah banyaknya gedung yang perlu direnovasi, daya saing yang kurang tinggi sempat isu putus sekolah karena ketidakmampuan pembiayaan.
Kementrian agama yang mengatakan “Madrasah lebih baik, lebih baik madrasah” patut pendapatkan apresiasi positif dari kalangan madrasah dan masyarakat. Karena hal itu bisa menjadi penyemangat dan pemotivasi untuk melakukan kerja nyata, kerja keras, kerja cerdas, kerja tangkas dalam meningkatkan mutu madrasah.
Di manapun shobat mencari ilmu, dia adalah intan berlian, sekalipun dalam kubangan kotoran dia tetaplah intan berlian, yang jika kau temukan harganya sungguh tak terkatakan. Shobat pernah tidak, menemui teman ataupun kerabat yang merasa malu dengan sekolahannya, karena dirasa tidak memiliki nama besar atau berada di jurusan yang tidak dikenal dan dipandang sebelah mata. Lebih jengkel lagi adalah, ketika menemui orang, yang diatur oleh Allah SWT. mendapatkan sekolah yang memiliki nama besar tapi ikut memandang sebelah mata temannya yang tidak seberuntung dia. Merasa bahwa dia lebih hebat, berhati-hatilah sombong dan bangga itu bedanya sangat tipis Shob, dan kadang kita tidak bisa membedakan.
Sungguh ilmu itu adalah rahmat, dimanapun Shobat mencarinya dia akan tetap berharga yang membedakannya hanya satu yaitu usahamu dalam mencari, mempelajari dan mengamalkannya. Sedih ya Shob rasanya, melihat generasi sekarang ini ilmu hanya dijadikan komoditas perdagangan, melihat generasi muda menuntut ilmu hanya arena ingin cepat dapat pekerjaan setelah lulus ataupun karena ilmu yang dipelajari memiliki gengsi yang tinggi. Maka tidak heran ketika sekarang ini, hasil lebih diutamakan daripada proses dari sejak sekolah dasar hingga SMA tidak pernah ditekankan pentingnya menuntut ilmu. Yang ada hanya penting lulus (belajar agar dapat nilai bagus dan lulus ujian atau tes)
Shobat hendak menuntut ilmu di sekolah yang tidak terkenal ataupun di sekolah yang terkenal, itu semua tergantung diri Shobat masing-masing, itu hanyalah alat dari Allah SWT. agar Shobat bisa menadaptkan rahmat berupa setetes kecil ilmuNya. Semua tergantung niat Shobat.
“Barangsiapa mencari ilmu yang seharusnya dicari untuk mengharapkan wajah Allah, namun ternyata ia tidak mempelajarinya melainkan untuk mendapatkan satu tujuan dunia, maka ia tidak akan mencium wanginya surga pada hari kiamat” (al-hadist)
Begitu banyak ilmu yang tidak bisa kita manfaatkan, sementara ilmu adalah hal yang akan dipertangggungjawabkan atas kepemilikannya. Dan saat ini Shobat terus-menerus mengumpulkan ilmu, hingga buram nama yang harus dimanfaatkan dan mana yang tidak dipakai, kita menambah beban pertanggungjawaban kita kelak.
Dilain lagi, bukankah selama ini yang kita temui mengejar ilmu untuk kehidupan dunia? Mengejar dunia? Maka berkah ilmu hanya akan sampai manisnya dunia yang mungkin hanya bisa Shobat rasakan sampai usia 40 tahun, setelah itu sakit dan mati.

Jumat, 29 Januari 2016

Tawadhu' Hilang Barokah Melayang



Oleh: Intan Permatasari (XB), Anis Munawaroh (XB), & Husnul Khotimah (IXD)


Ketika Shobat sedang ada pelajaran, apa yang biasanya Shobat lakukan? Shobat tidak perlu menjawab, Kamus sudah tahu kok. Pasti yang Shobat lakukan adalah tak menghiraukannya ada juga yang menyimaknya. Apalagi jika tidak menghiraukannya dengan cara bergaduh atau mengolok-olok guru yang sedang menjelaskan materi.
Di zaman kini tak sedikit orang pandai. Namun, banyak yang lupa. Seolah-olah kepandaian dan kekayaan ilmunya terjadi dengan sendirinya tanpa tersentuh dan doa dari para guru yang pernah mengajari mereka dengan ikhlas.
Islam sangat menganjurkan agar umatnya menghormati para ulama dan guru-guru mereka. Dalam kitab Ta’lim Muta’allim dijelaskan cara menghormati guru, diantaranya: tidak boleh berjalan di depan guru, tidak duduk di tempat yang diduduki gurunya, dan bila di hadapan gurunya tidak boleh memulai pembicaraan kecuali atas izinnya. Murid mestilah mendapatkan ridha dari gurunya.
Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang bersikap tawadhu’ semata-mata karena Allah SWT, Allah SWT akan meninggikan derajatnya meskipun ia merasa dirinya kecil, tetapi di mata manusia ia begitu besar. Dan siapa yang bersikap takabbur, maka Allah SWT akan merendahkannya. Ia dalam pandangan manusia begitu kecil, meskipun ia merasa dirinya besar. Hingga ia lebih hina daripada anjing dan babi.” (HR. Al-Baihaqi).
Pada hadis diatas Rasulullah SAW mengatakan bahwa Allah SWT akan meninggikan orang yang tawadhu’ dan merendahkan orang yang sombong. Bahkan kerendahannya melebihi anjing dan babi. Sebuah peringatan keras yang menunjukkan betapa sikap tawadhu’ harus dilakukan, karena orang yang tidak tawadhu’ pasti ia merasa sombong. Inilah yang direndahkan derajatnya oleh Allah SWT. Shobat tidak mau kan derajatnya direndahkan oleh Allah SWT?
Tawadhu’ adalah sifat yang amat mulia. Namun, sedikit orang yang memilikinya. Ketika orang sudah memiliki gelar yang mentereng dan berilmu tinggi serta memiliki harta yang mulia, sedikit yang memiliki sifat kerendahan hati alias tawadhu’.
Tawadhu’ juga bermakna patuh terhadap kebenaran, menerima nasihat dari siapapun datangnya. Baik dalam keadaan suka, murka, dan duka. Padahal kita seharusnya seperti ilmu padi, yaitu “Kian berisi, kian merunduk”. Apalagi jika siswa yang memiliki prestasi atau tergolong siswa yang aktif akan rasa tawadhu’ terhadap guru sudah banyak yang musnah.
Tawadhu’ adalah ridho jika dianggap mempunyai kedudukan lebih rendah dari yang sepantasnya. Tawadhu’ merupakan sikap pertengahan antara sifat sombong dan melecehkan diri. Sombong berarti mengangkat diri terlalu tinggi hingga lebih dari yang semestinya. Sedangkan melecehkan yang dimaksud adalah menempatkan diri terlalu rendah sehingga sampai pada pelecehan hak. Tawadhu’ adalah menampakkan diri lebih rendah dari pada orang lain yang ingin mengagungkannya. Ada pula yang mengatakan bahwa tawadhu’ adalah memuliakan orang yang lebih mulia dari pada dirinya.
Namun, mengapa saat ini banyak siswa yang menghilangkan sifat Tawadhu’? mungkin perlakuan para siswa terhadap guru saat ini banyak yang melenceng. Itu dampak dari menonton acara yang tidak mengandung unsur pengetahuan tetapi mengandung unsur yang tidak patut ditiru oleh pelajar.
Ilmu tidak akan bisa diperoleh secara sempurna kecuali dengan diiringi tawadu’ si murid terhadap gurunya shobat, karena keridhohan guru terhadap murid akan membantu proses penyerapan ilmu. Tawadhu’ murid terhadap guru merupakan cermin ketinggian kemuliaan si murid. Tunduknya kepada guru justru merupakan kemuliaan dan kehormatan baginya.
Seringkali para murid menganggap guru sebagai teman, ya memang peranan guru sebagai komunikator, sahabat yang dapat memberikan nasihat, motivator sebagai pemberi inspirasi dan dorongan, pembimbing dalam pengembangan sikap dan tingkah laku serta nilai-nilai, dan sebagai orang yang menguasai bahan yang diajarkan shobat. Tetapi seringkali para murid menganggap seorang guru itu seperti teman biasa tidak ada rasa patuh sama sekali.
Hilangnya perilaku ini disebabkan oleh pengaruh lingkungan dan pengaruh TV. Anak zaman sekarang mudah terpengaruh sama teman sebayanya ataupun tayangan yang tidak mendidik.
Nah, agar kita tidak terjerumus pada hal ini maka ikutilah kiat-kiat berikut
1.Berfikirlah dari apa kita diciptakan
Jika seorang musim bisa mengukur diri, dan menyadari siapa dirinya dia akanmenilai bahwa dirinya adalah insan yang rendah dan hina karena manusia bila dilihat dariasal pencipta berasal dari setetes mani yang keluar dari saluran air kencing, kemudian menjadi segumpal darah, segumpal daging dan akhirnya menjadi insan.
2.Hindari diam
Hindari segala sesuatu yang mendekatkan kita pada hal yang mendekatkan kita pada hal yang jelek. Setidaknya kita diam dan tidak menanggapi hal yang tidak jelas.
3.Menjaga perasaan guru
Selalu jaga sikap dan perkataan saat dengan guru, karena jika hati seorang guru tersakiti. Maka pada saat proses belajar mengajar, guru tersebut akan memiliki rasa tidak ikhlas dalam menyampaikan ilmunya pada kalian shobat.
  Nah,itu tadi merupakan penjelasan tentang hilangnya tawadhu’pada guru. Bergaullah dengan yang baik dengan siapa saja dan jauhkan diri dari sifat sombong dihadapan hamba Allah SWT yang lain.

Kamis, 18 Februari 2010

Malam Barokah
Oleh: Putri Nur Indah Sari (XIIB)

Nuzulul Qur’an, yang secara harfiah berarti turunnya Al Qur’an (kitab suci agama Islam) adalah peristiwa penting penurunan wahyu Allah pertama kepada Nabi dan Rasul terakhir agama Islam yakni Nabi Muhammad SAW. Pada bulan Ramadhan banyak umat Islam yang memperingati Nuzulul Qur’an. Turunya al-Qur’an untuk yang pertama kalinya merupakan tonggak sejarah munculnya satu syari’at baru dari agama-agama tauhid sebelumnya.
Kapan Turunnya Nuzulul Qur’an?
Menurut Syekh Shafiyur Rahnman al-Mubarakfury (penulis Sirah Nabawiyah) menyatakan bahwa para ahli sejarah banyak berbeda pendapat tentang kapan waktunya pertama kali diturunkannya al-Qur’an, pada bulan apa dan tanggal berapa?
Ada yang mengatakan tanggal 8 Rabiul Awwal dan 18 Rabiul Awwal yang diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. Ada yang menyatakan tanggal 7 (hari Senin), 14 (hari Senin), 17 (hari Kamis), 21 (hari Senin) dan ada yang menyatakan tanggal 27 (hari Kamis).
Tapi menurut pendapat Tarikh Islam untuk pertama kalinya pada tanggal 17 Ramadhan diriwayatkan dari sahabat Al Bara’ bin Azib dan dipilih oleh Ibnu Ishaq, kemudian oleh Ustadz Muhammad Huzhari Bik.
Pendapat 21 Ramadhan dipilih oleh syekh al-Mubarak Furiy, karena Lailatul Qodr ada pada malam ganjil, sedangkan hari Ssenin pada tahun itu adalah tanggal 7, 14, 21, dan 28 sedangkan pendapat 24 Ramadhan diriwayatkan dari Aisyah, Jabir dan Watsilah bin Asqo. “Ini sangat kuat dari segi riwayat.”
Dan peristiwa Nuzulul Qur’an atau turunnya wahyu pertama “Sesungguhnya Allah telah menurunkannya pada malam kemuliaan” (al-Qodr : 1)
“Malam kemuliaan” adalah Lailatul Qodr, yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, keagungan, dan penuh barokah karena pada malam itu permulaan turunnya al-Qur’an.

Saat diturunkan Wahyu Pertama Nabi Muhammad sedang berkhalwat (semedi) di gua Hira. Di gua itulah Muhammad merenung dan berfikir meminta petunjuk kepada yang maha kuasa untuk merubah moral bangsanya yang sudah melebihi batas toleransi. Saat itulah Beliau didatangi malaikat Jibril yang diutus oleh Allah Swt. untuk menyampaikan wahyu untuk yang pertama kalinya dan saat itu Muhammad berusia 40 tahun, selanjudnya Jibril mengatakan. “Iqro yaa Muhammad” (bacalah hai Muhammad) da saat itu seakan-akan Nabi Muhammmad tak sanggup untuk menirukan sampai diulangi malaikat Jibril beberapa kali dan kemudian diikuti oleh Muhammad dengan lancar da fasih. Yaitu wahyu pertama surat al-Alaq ayat 1-5 yang bila duterjemahkan menjadi:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menyiptakan
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmula Yang Maha Pemurah,
Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Inilah ayat yang pertama turun yang menjadi tonggak sejarah bagi umat Islam dan kerasulan Nabi Muhammad Saw. Selanjudnya Allah Swt. menurunbkan ayat-ayat al-Qur’an lainnya selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Dan al-Qur’an ini benar-benar wahyu Allah, bukan rekayasa bangsa Arab dan bukan hanya untuk bangsa Arab saja. Sehingga al-Quran tetap terjaga kemurniannya sampai akhir zaman. Dan banyak orang-orang mu’min yang huffadh (hapal) al-Qur’an untuk menjaga kemurnian al-Qur’an.
Maka tidak pernah terputus dan habis pada tiap-tiap generasi para penghafal al-Qur’an selalu bermunculan. Maka tidak aneh jika ada orang yang berniat merubah dan menyelewengkan kebenaran Al-Qur’an pasti akan ketahuan.
Dan pada bulan Ramadhan kemarin banyak yang memperingati peristiwa turunnya al-Qur’an bukanlah cara orang-orang sholeh yang muttaqin. Akan tetapi jejak ulama-ulama salaf adalah membaca al-Qur’an, membaca dan membacanya lagi.
Apalagi dibulan Ramadhan, bulan Al-Qur’an ini Umar Radhiallahu anhu berkata: “Seandainnya kita bersih, tentu akan merasa kenyang dari kalam Allah. Sesungguhnya aku amat tidak suka manakala datang sebuah hari sementara aku tidak membaca al-Qur’an.” Setiap hari Umar bin Khattab selalu membaca al-Qur’an dan juga para tabi’in. Maka bila bulan Ramadhan tiba mereka mengkhususkan diri untuk membaca sehingga dalam satu bulan khatam al-Qur’an berpuluh-puluh kali.
Al-Qur’an adalah pusat kehidupan. Banyak hikmah yang kita ambil dalam al-Qur’an dan kehidupan kita sudah tertulis di al-Qur’an. Pada saat Nuzulul Qur’an atau pada bulan Ramadhan perbanyaklah membacanya. Kita berdoa agar damai hati ini mendengar melafadzkan senandung ayat suci al-Qur’an juga diikuti kedamaian, ketentraman, dan Rahmad karena Tuhan akan segera datang pada siapa yang membacanya.

Jumat, 04 Desember 2009

SERAGAM BARU
Oleh: Ifa Sholiana (XB)

Shobat Kamus, tahu khan kalau salah satu kebutuhan yang wajib dipenuhi oleh seorang siswa adalah seragam. Benda yang satu ini kerap menyibukkan kalangan masyarakat pada umumnya dan kalangan pelajar pada khususnya.
Seragam pada umumnya terbagi atas seragam umum dan seragam khusus. Seragam umum sebagaimana yang shobat lihat untuk SD pasti merah putih atau hijau putih untuk madrasah. Untuk SMP/MTs. pasti biru putih sedangkan untuk SMA/MA berwarna abu-abu putih. Seragam khusus tergantung dari lembaga yang mengelola sekolah. Karena yang namanya khusus tentu saja sebagai ciri khas dari sekolah tersebut.
Meski kerap menyibukkan masyarakat dan pelajar tentu saja dengan adanya seragam ini menjadikan identitas bagi setiap siswa bahwa mereka masih sekolah dan tentu masih menyandang predikat pelajar. Seragam juga menjadi berkah tersendiri bagi profesi yang satu ini yakni penjahit. Apalagi kalau sudah menjelang bulan Juli yang merupakan Tahun Pelajaran baru. Di sana-sini hilir mudik para siswa mencari tempat menjahit yang cocok dan tentu saja yang masih lowong karena begitu banyaknyua job yang diterima penjahit menjadikan mereka sampai-sampai menolak job tersebut.
Bagi para siswa yang baru masuk kelas I, VII, atau X berseragam yang baru tentulah merupakan keharusan. Karena bagaimanapun bentuk dan warna yang akan dikenakan sama sekali berbeda dengan seragam sebelumnya. Tetapi bagi yang naik dari kelas I, VII atau kelas X apakah berganti seragam merupakan keharusan?
Menurut shobat Kamus, apakah berganti seragam tiap tahun itu mesti kita lakukan? Tentu sebagaian besar dari shobat akan menjawab tidak dan itulah jawaban yang memang saya inginkan. Benar shobat tentu merupakan tindakan yang kurang bermanfaat jika kita harus berganti seragam harus tiap kenaikan kelas.
Bayangkan betapa berat beban yang akan ditanggung oleh orang tua kita ya nggak? Apalagi biaya pendidikan yang semakin hari semakin membumbung tinggi. Memang, untuk sebagian siswa yang mampu berganti seragam bukanlah merupakan hal menjadi beban berat tapi bagaimana dengan siswa yang masih terbilang tidak mampu? Apalagi kalau dikaitkan dengan keadaan lingkungan sekitar kita yang banyak terkena bencana. Yang bisa berupa banjir, kebakaran, gempa bumi dll. Jangankan seragam, sedangkan buku-buku pelajaran atau perlengkapan sekolah lain bisa jadi lenyap seketika hanya karena bencana yang terjadi dalam sekejap.
Ah, seandainya keinginan saya disetujui para shobat khususnya bagi yang mampu. Bagaimana kalau kebiasaan berganti seragam tiap tahun yang notabene kurang begitu diperlukan dialihkan dengan kegiatan amal sosial. Tentu hal itu akan lebih memberikan manfaat bagi sementara orang yang membutuhkan.
Seandainya asumsi saya ini benar, tentu banyak sekali siswa yang terbantu. Sebab jika shobat tidak sendirian melainkan diikuti oleh siswa-siswa lain maka betapa indahnya hidup ini bisa meringankan beban orang lain.
Atau seandainya shobat tidak setuju dengan ide saya di atas, bagaimana jika dana yang semestinya untuk membeli seragam dialihkan untuk membeli barang-barang yang masih berkaitan dengan sekolah. Buku misalnya. Kenapa mesti buku? Tentu saja bagaimanapun buku adalah sumber ilmu yang paling vital setelah guru kita. Betapa pintarnya jika kita membeli buku dan kita baca secara intensif tentu kita akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Sebab secara sadar atau tidak ternyata selama ini kita ini lebih banyak membaca SMS daripada membaca buku, iya nggak shobat? Apalagi uang yang kita habiskan selama ini lebih banyak untuk beli pulsa daripada untuk beli buku. Sungguh memprihatinkan.
NYAMUK
(Nia Anita Sari XIa)

“Sesungguhnya Allah tidak segan-segan membuat perumpamaan dengan seekor myamuk atau yang lebih rendah…”(QS.Al-Baqarah: 26)

Kita tentu mengenal makhluk kecil yang satu ini. Hampir setiap malam ia menghampiri tempat tidur kita, berdengung-dengung ditelinga, menempel sebentar di bagian tubuh kita yang tidak tertutup pakaian, menggigitnya, lalu pergi seraya meninggalkan titik kecil dikulit kita yang tiba-tiba terasa sedikit gatal.
Nyamuk. Beberapa bulan terakhir binatang ini membuat panik banyak orang. Ribuan orang jadi korban demam berdarah karena gigitannya yang menularkan virus Dengue. Setiap keluarga takut, para dokter dibuat super sibuk, rumah-rumah sakit kebanjiran pasien, bahkan para pejabatpun dibuat pusing. Ujung-ujungnya, kita semua dipaksa memikirkan makhluk bertubuh kecil ini.
Kita semua tahu, nyamuk hanyalah makhluk kecil, bahkan sangat kecil jika dibandingkan dengan tubuh manusia, apalagi dibandingkan dengan gajah. Tapi fenomena demam berdarah yang mewabah dan merenggut banyak korban di negeri ini. Ini menunjukkan betapa seekor nyamuk yang kita pandang kecil itu mampu membuat takut semua orang. Bahkan dalam kadar yang lebih tinggi, tidak sedikit orang yang harus meregang nyawa karena tidak mampu untuk diselamatkan oleh dokter yang mengobatinya.
Kenyataan diatas sesungguhnya mengajarkan kepada kita akan satu hal: betapapun cerdas dan berkuasanya manusia tetapi (atas izin Allah) toh kita tidak mampu menolak kemudharatan yang disebabkan oleh makhluk lain, meskipun hanya seekor nyamuk yang kecil. Karena itu, tidak ada yang patut kita sombongkan pada diri kita baik fisik, harta, kekuasaan, bahkan kecerdasan kita sekalipun, Allah bisa mengambil semuanya dalam sekejap mata, kapanpun jika Ia menghendakinya.
Kita tentu ingat kisah Raja Namrudz yang lalim dan sombong itu. Namrudz adalah manusia yang paling berkuasa pada masa Nabi Ibrahim AS. Karena kekuasaanya yang besar itu, ia gelap mata dan menjadi sombong, sehingga mengklaim dirinya sebagai Tuhan. Ia tidak mau menerima kebenaran yang terang benderang yang dibawah oleh Ibrahim as. yang dimatanya hanyalah dipandang sebagai seorang pemuda kemarin sore, anak seorang pembuat patung.
Allah SWT. Kemudian membalas kesombongan Namrudz hanya dengan mengirim seekor nyamuk. Ya…nyamuk! bayangkan, seorang raja yang maha berkuasa yang memiliki ratusan ribu (bahkan mungkin jutaan) tentara yang siap sedia menuruti perintahnya. Diberi peringatan oleh Allah SWT. hanya dengan seekor nyamuk, tentara bergajah, juga bukan tentara sekutu yang memiliki tank lapis baja. Tapi atas kekuasaan Allah SWT. makhluk yang kecil itulah yang akhirnya membunuh Namrud.
Pada titik ini, seharusnya kita menyadari betapa menusia yang mengaku sebagai makhluk tuhan yang paling hebat, paling cerdas, dan paling cerdas ini, bukanlah siapa-siapa. Jika nyamuk makhluk Tuhan yang kecil itu saja mampu membuat hati kita takut, bagaimana dengan makhluk Tuhan yang lainnya yang jauh lebih kuat dari pada manusia? Lalu jika demikian, mengapa masih benyak manusia yang berani menyombongkan diri didepan Tuhannya yang Maha Besar dan Agung? (dikutip dari majalah Hidayah)

Jumat, 28 Agustus 2009

My Family is Baity Jannati
Oleh: Indah Arum Sari, Riska Sahara, Dia Eka Cahyani

Masih ingatkah kita dengan lirik lagu keluarga Cemara? Harta yang paling berharga adalah keluarga...yap...persis dengan dugaan kalian. Lirik lagu tersebut menggambarkan sebuah keluarga.
Banyak definisi tentang keluarga. Salah satunya adalah masyarakat terkecil yang mengelilingi dan mempengaruhi perkembangan kita sejak lahir ke dunia. Adalagi yang mendefenisikan keluarga merupakan satuan sosial terkecil yang terdiri atas suami, istri, dan anak.
Tapi jangan bingung, keluarga nggak harus sekandung lho. Kalian kita kebetulan tinggal dengan paman, Bibi, Kakek, Nenek, Ibu tiri, Ayah tiri, atau saudara tiri sekalipun, ya...mereka itulah keluarga kita.
Keluarga memang sangat berarti buat kita. Tanpa keluarga nggak kebayang dech apa yang bakal kita alami. Karena itu, kita harus menjaga hubungan kekeluargaan kita dengan penuh cinta. Rasa cinta adalah kunci dari suatu hubungan. Rasa cinta ini mampu membuat kita memaafkan kesalahan dan melapangkan dada untuk menerima segala kelebihan dan kekurangan keluarga kita.
Baity Jannaty “Rumahku surgaku” berakar dari pedoman itulah akhirnya kita menjadi seseorang yang menginginkan adanya kenyamanan di tempat berteduh kita.
Keluarga adalah sarana vital yang merupakan bagian hidup kita di dunia. Jika ada yang bilang hidup ini sempurna dengan bermandikan permata, tidur beralaskan mutiara dan berselimut sutra, maka orang itu salah besar. Apalah arti harta benda dan kekayaan yang melimpah jika dalam hati tak sedikitpun tertanam bahagia. Tapi bukan berarti kita hidup tak butuh kekayan, hanya saja hal itu bukan tujuan utama kita hidup di dunia. Rasa bahagia dan nyaman dalam diri kita adalah yang jadi prioritas utama dan yang mampu menciptakan keduanya.
Keluarga adalah tumpuan hidup kita, putaran kehidupan yang panjang takkan mampu memudarkannya. Luka hati yang dalam kan hilang dalam dekapan keluarga. Perasaan bahagia yang tak terkira semakin terasa indah di dalam keluarga. Adakah kebahagiaan yang hakiki laksana surga di dunia? Jika surga yang tersebut dalam ayat-ayat ALLAH SWT(Al-Qur’an) adala surga yang diperuntukkan bagi insan yang mulia sebagai balasan amalannya selama hidup di dunia dan hanya dapat dinikmati di akhirat sana kelak. Maka kebahagiaan hakiki yang juga surganya dunia hanya ada di tangan keluarga dan itupun dapat dirasakan bila keluarga yang kita bina termasuk dalam keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.

PERAN PENTING KELUARGA
Sebuah keluarga tentunya terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Ketiga orang tadi merupakan anggota pokok dari sebuah keluarga. Bukan cuma itu saja, apabila anggota keluarga bertambah akan menjadi lebih sempurna. Misalnya saja hadirnya saudara, rasa kasih sayang, ikhlas, cinta, kesetiaan, kepercayaan, pengorbanan, pengertian, ketulusan, kejujuran. Apabila semua rasa ini tercipta dan tinggal dalam sebuah keluarga, maka keharmonisanlah yang menjadi kebanggaan tiap anggota keluarga. Pastilah semua orang mendambakan keluarga yang seperti itu. Kerja sama antar anggota keluarga sangat penting.
Ada beberapa banyak cara yang dapat dikgunakan untuk bekerja sama antar anggota keluarga.Dari yang sederhana hingga yang istimewa sekalipun.Misalnya saja tiap anggota memahami tugas atau kewajiban masng-masing. Bukan cuma hak saja yang harus dipedulikan melainkan kewajiban yang harus didahulukan agar tercipta keseimbangan antara hak dan kewajiban dalam sebuah keluarga. Dimulai dari ayah yang menjadi kepala rumah tangga dan berkewajiban mencari nafkah untuk menghidupi keluarga yang dibinanya serta menjaga akhlak daripada keluarga, misal dengan mendidik anak.
Kemudian ibu mengandung sampai 9 bulan yang semakin hari semakin lemah dan lunglai. Bukan cuma itu saja tugas seorang ibu, setelah anaknya lahirpun ia harus bisa merawat, mengasihi, menyayangi, serta mendidik hingga anak itu tumbuh besar dan menjadi anak yang berguna bagi keluarga, serta nusa dan bangsa.
Kewajiban seorang anak haruslah patuh, taat dan berbakti kepada kedua orang tua. Terutama pada ibu yang begitu besarnya pengorbanan yang ia berikan kepada anaknya. Masih ingatkah”Surga di telapak kaki ibu”. Keridhaan seorang ibu merupakan ridha Allah Swt yang mengharap kebahagiaan untuk anaknya. Nah... jika tap-tiap anggota keluarga sudah melaksanakan tugas atau kewajiban masing-masing maka akan lebih mudah untuk mewujudkan keluarga yang penuh dengan kebahagiaan.
Adalah pukulan yang berat apabila keluarga yang kita miliki tidak pernah disinggahi rasa bahagia, rasa nyaman dan rasa damai. Yang ada hanya kesedihan, ketakutan, keresahan dan perasaan-perasaan yang kurang mengenakkan lainnya. Semua perasaan yang menyedihkan tersebut terjadi jika interaksi antar anggota keluarga tidak terjalin dengan baik, sering terjadi perbedaan pendapat, perselisihan kecil yang terlalu dibesar-besarkan. Sehingga dapatlah ditebak apa yang terjadi selanjutnya, konflik berkepanjangan, pertengkaran kecil, sehingga pertengkaran yang hebatpun tak terelakkan lagi. Dan jika demikian keadaannya maka bukan hanya satu pihak yang merasa dirugikan tapi seluruh anggota keluarga termasuk kita sebagai sang anak.
Bisa ditebak, bila keburukan tersebut mencapai puncaknya. Ya... apalagi kalau bukan perpisahan antara orang tua denagn anaknya juga permusuhan yang tiada hentinya. Segala hal buruk diatas dapat terjadi kapanpun, tak peduli kita termasuk keluarga kaya atau sebaliknya. Untuk mencegah hal itu seluruh anggota keluarga harus berusaha melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya yaitu:
1. KEDUA ORANG TUA
Orang tua harus bisa menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya, teladan yang mulia dan haruslah mampu melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya yang dibebankan atasnya dan berikut adalah kewajiban kedua orang tua dalam sebuah keluarga. Mendidik dan memerintahkan sholat termasuk juga ibadah yang lainnya. Dalam hal ini orang tua haruslah tegas agar anaknya pun akan patuh dan taat pada keduanya. Dalam sebuah hadis riwayat Abu Dawud dijelaskan bahwa kewajiban memerintahkan anak untuk sholat adalah sejak umur 7 th dan wajib memberi hukuman (pukulan, kecuali dikepala) jika hingga usia 10 th anak-anaknya belum juga mau mengerjakan sholat sehingga jalan terbaik agar anaknya patuh adalah menanamkan sejak dini.
Memberikan pendidikan budi pekerti. Di dalam hadis riwayat Tirmidzi, Rasulullah saw bersabda bahwasanya pemberian yang utama dari orang tua pada anaknya adalah pemberian berupa bimbingan dan pendidikan budi pekerti (akhlak yang mulia) dan tentu saja, jika seluruh kewajiban utama orang tua yakni memelihara dirinya dan keluarganya dari kekejaman api neraka.(baca Qs.Attahrim ayat 6)sehingga surga di dunia maupun diakhirat dapat kita raih dengan keluarga.
2. ANAK
Sebagai seorang anak, kita pun punya kewajiban yang harus dipenuhi pada keluarga terutama orang tua, yakni:
• Berbuat Baik Kepada Orang Tua Dan mendoakannya
Dalam Q.S. Al-Isra’ :23 terdapat sebuah kata yang berarti ”Berbuat baiklah kepada kedua orang tuanya.” Itu menandakan betapa mulianya keduanya di hadapan Allah swt.
• Berterima kasih kepada keduanya, terutama ibu atas jerih payah yang beliau lakukan. Dalam hal ini kita harus selalu mengingat sebuah ungkapan, yakni”Surga itu dibawah telapak kaki ibu”. Dengan demikian bukan hanya kenyamanan dalam keluarga yang kita dapat jika melaksanakan suatu kewajiban tersebut tapi juga sebuah tempat di surga juga akan disediakan bagi kita sekeluarga kelak diakhirat. Sebagai sebuah deposito.

CITA-CITA DAN TUJUAN KELUARGA
Jika seseorang sudah memahami peran penting keluarga maka selanjutnya yang menjadi motivasi untuk membangun keluarga adalah cita-cita dan tujuan yang harus dicapai demi terwujudnya kebahagiaan. Setiap orang pasti mempunyai cita-cita khan...? entah itu menjadi dokter, polisi, tentara, angkatan laut, pengusaha sukses, dan lain-lain yang menjanjikan sebuah jabatan, kehormatan, uang dan lain-lain. Akan tetapi bukan semua itu yang menjadikan cita-cita keluarga melainkan keharmonisan, kebahagiaaan yang sempurna, kasih sayang yang berlimpah dalam sebuah keluarga. Seperti kalimat berikut ini, makan nggak makn ngumpul! Seberat apapun masalah-masalah yang timbul dalam keluarga, jika tetap bersama-sama (ngumpul) akan lebih mudah untuk menyelesaikannnya dan juga terasa ringan karena berat sama dipikul ringan sama dijinjing, artinya susah dan senang sama-sama merasakan.
Jika anggota tubuh ada yang sakit, maka seluruh anggota tubuh akan merasakan sakit juga. Itu menandakan jika ada anggota keluarga sakit yang lain akan merasa sedih (sakit) juga.
Sebuah rumah dikatakan indah atau bagus bukan dari kemewahan barang-barang yang dimilki melainkan kebahagiaan yang terpancar di dalamnya yang menghiasi setiap sudut rumah dengan senyuman, canda, tawa, dan yang pasti suasana rumah akan menjadi nyaman. Buat apa punya rumah mewah jika tidak ada kebahagiaan di dalamnya. Lebih baik rumah sederhana tapi berlimpah kebahagiaan dan kasih sayang.
Setelah cita-cita,motivasi untuk membangun sebuah keluarga selanjutnya adalah tujuan semua keluarga di dunia ini pasti mempunyai tujuan yang terbaik untuk semuanya.tentunya banyak tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan di dunia maupun tujuan di akhirat. Misalnya saja kebutuhan hidup keluarga terpenuhi, kenyamanan, ketertiban, kerukunan, kesejahteraan yang merupakan tujuan keluarga di dunia. Tujuan keluarga di akhirat juga sangat penting. Jika setiap anggota keluarga mempunyai/memiliki perbuatan yang baik dan beralakhlaqul karimah maka akan lebih mudah untuk menempuh jalan meraih surga yang merupakan tujuan keluarga.
Oleh karena itu apabila ada anggota keluarga ynag melakukan kesalahan, maka harus saling mengingatkan dan mengarahkan pada hal yang benar. Kemudian apabila ada yang mendapat masalah (kesusahan) maka harus saling mendukung serta membantu untuk menyelesaikannya. Pertengkaran dalam sebuah keluarga merupakan tantangan yang harus dihadapi dengan kepala dingin. Kesabaran, kesadaran untuk menghilangkan pertengkaran yang terjadi. Dan menjadikan hidup lebih bermakna serta berwarna.
Mengasyikkan bukan, punya keluarga itu? Apalagi mempunyai keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah dan yang pasti akan menjadi dambaan semua orang. Belum lagi kalau hari-hari besar keagamaan seperti hari raya Idul Fitri, para keluarga akan berkumpul untuk saling bermaaf-maafan, bercanda tawa bersama, dan makan bersama. Menyenangkan sekali jika semua anggota keluarga berkumpul. Meskipun ada yang terpisah satu sama lain antar anggota keluarga tetapi masih bisa bersama dimanapun dan dalam keadaan apapun. Semua itu akan terwujud jika anggota keluarga berkeyakinan untuk bersama-sama berbagi cinta kasih dan kebahagaiaan yang dimiliki.
Nah, teman-teman setelah membaca sedikit mutiara kata di atas, besar harapan teman-teman dapat mempraktekkan masing-masing agar teman bisa merasakan apa yang disebut surga dunia tersebut. Satu hal lagi yang terpenting dalam sebuah keluarga adalah pemupukan rasa tanggung jawab yang besar dan pemberantasan rasa egoisme setiap pihak. Dan akhirnya kami harus mengakhiri semua bahasan di atas karena kami juga ingin mempraktekkannya di rumah. See you!

Selasa, 04 Agustus 2009

Edisi: 2

AYAH
Oleh: Indah Arum Sari (IXb)


Kita semua pasti tahu khan, siapa ayah itu? Secara umum kita bisa mengartikan bahwa ayah adalah orang tua laki-laki kita sekaligus suami dari ibu kita masing-masing. Mengapa ya, kebanyakan anak-anak kecil hingga dewasa sekalipun, bagi mereka sosok seorang ayah lebih ditakuti daripada sosok seorang ibu. Apa karena ayah itu laki-laki yang terkenal lebih tegas daripada ibu seorang wanita yang umumnya itu bersifat lemah lembut.
Tapi, masih ada juga yang beranggapan bahwa sosok seorang ibu lebih ditakuti daripada sosok seorang ayah. Alasan mereka mudah saja, coba saja kalian fikir kalau seorang ibu biasanya suka marah-marah ( ngomel ), cerewet, minta anaknya harus ini, harus itu. Apalagi kalau anak-anaknya lagi membuat kasalahan (bandel, nakal, susah diatur) pastilah semua itu dilakukannya. Beda dengan ayah yang kebanyakan sibuk dengan pekerjaannya. Tapi, sebenarnya ayah dan ibu sama saja. Mereka berdua orang yang tulus ikhlas menyayangi, mengasihi, mendidik, membimbing kita dari kecil hingga dewasa. Kalau kita berusaha memahami itu semua, tentu kita juga akan merasakan kasih sayang yang sesungguhnya dari mereka.

ARTI PENTING SEORANG AYAH
Teman-teman semua pasti sudah tahu kan peran seorang ayah! Kebanyakan dari mereka mengatakan bahwa peran seorang ayah, sudah pastilah ia sebagai kepala rumah tangga yang harus bertanggung jawab sepenuhnya terhadap sebuah keluarga yang ia bina, demi terwujudnya cita-cita semua keluarga, yakni keharmonisan (langgeng) untuk selamanya. Tidak hanya menjadi kepala rumah tangga saja, tugas seorang ayah sangatlah berat. Misalnya mereka harus bekerja membanting tulang untuk menghidupi keluarganya, belum lagi ia harus mendidik anaknya menjadi anak yang berguna bagi keluarga, nusa dan bangsa. Ya, kalau anaknya penurut (mudah diatur) akan lebih mudah untuk mendidiknya, tapi kalau anak yang dididik dan dibimbing itu bandel, nakal, susah diatur, tentunya seorang ayah akan merasa kesal, jengkel, dan yang pasti intinya seorang ayah akan selalu ingin marah-marah pada anaknya itu.
Tapi, semua itu akan menjadi lebih mudah, jikalau seorang ayah dan ibu bekerja sama untuk saling mendukung, mengawasi, memotivasi, semua apa yang dikerjakan, apa yang dirasakan, apa yang diinginkan seorang anak yang memang akan membutuhkan semua itu. Asalkan apa-apa yang dilakukan oleh seorang anak itu kedalam hal-hal positif serta bermanfaat, tentunya ayah dan ibu akan selalu merestui, memberi semangat dan yang pasti, mereka akan senantiasa mendoakan atas kesuksesan semua anak-anaknya kepada Allah SWT.
Mengapa akhir-akhir ini peran seorang Ayah tidak begitu kelihatan (menonjol)? Apa karena seorang ibu yang sekarang ini sudah bisa menghasilkan uang sendiri atau istilahnya bisa menopang kebutuhan keluarga. Apalagi kalau penghasilan seorang ibu lebih besar dibandingkan dengan penghasilan seorang ayah. Padahal, kebanyakan dari mereka mengatakan bahwa alasan mereka mencari uang (bekerja) itu hanya untuk membantu suami (ayah) dalam rangka memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga (rumah tangga). Apalagi kalau harga-harga barang atau kebutuhan keluarga mengalami kenaikan harga (inflasi). Itulah alasan mengapa seorang ibu bekerja, bukannya mereka ingin menggantikan peran atau posisi seorang ayah sebagai kepala rumah tangga yang bertanggung jawab.
Semua ayah di dunia pasti mendambakan keberhasilan dalam membina sebuah rumah tangga yakni keluarga yang harmonis. Keharmonisan keluarga akan membuat suasana rumah menjadi asri, nyaman, damai, dan sejahtera, dan semua itu juga akan membuat penghuni (ayah, ibu, anak) rumah itu betah atau merasakan keindahan yang sesungguhnya. Tak perduli sebagus atau sejelek apapun rumah (tempat tinggal) yang ditempati bersama anggota keluarga. Hal semacam ini, merupakan impian seorang ayah sebagai kepala rumah tangga yang baik. Bukan saja dalam impian tapi, seorang ayah akan berusaha mewujudkannya. Tentunya dengan bantuan anggota keluarga (ibu dan anak) yang saling mendukung.

CURHAT KE AYAH WHY NOT?
Meskipun kebanyakan dari kita semua mengatakan, kalau curhat pada ibu itu lebih nyaman dibandingkan dengan ayah. Tidak juga! Masih ada yang mengatakan curhat dengan ayah juga menyenangkan. Bagi anak perempuan sich, kebanyakan memilih curhat pada seorang ibu. Bagi anak laki-laki akan lebih cocok curhat pada seorang ayah, karena mereka sama-sama lelaki. Terkadang anak laki-laki bertanya pada ayahnya, bagaimana melewati masa-masa mudanya dulu, dan tentunya bagi anak cowok (laki-laki) yang sudah mulai tertarik dengan lawan jenisnya (anak cewek), mereka juga akan minta bagaimana caranya mengambil hati seorang cewek atau bagaimana kisah-kisah asmara seorang ayah dengan ibunya dulu. Seorang ayah akan rela berbagi cerita dengan anaknya, selama semua yang ia ceritakan berguna menambah semangat dan wawasan yang luas. Pengalaman baik, pengalaman buruk, diceritakan semua dengan catatan pengalaman yang baik bisa dijadikan contoh dan pengalaman yang buruk tidak bisa dijadikan contoh, tapi bisa diambil hikmahnya.
Sebenarnya bukan anak laki-laki saja lho, yang cocok curhat dengan seorang ayah, anak perempuan juga asyik kalau curhat dengan seorang ayah. Mereka bisa bertanya, bagaimana menghadapi anak laki-laki yang seperti ini, seperti itu, harus bagaimana, harus melakukan apa. Tentunya semua itu bagi anak remaja yang juga mulai tertarik dengan lawan jenisnya. Seorang ayah tidak akan menolak menjawab pertanyaan dari anak-anaknya, baik anak laki-laki maupun anak perempuan. Justru dengan menjawab semua pertanyaan dari anaknya, selagi ia bisa menjawabnya. Itu sama juga dengan memberi semangat, dukungan, motivasi untuk menikmati masa-masa mudanya dalam hal-hal yang positif (baik-baik) bukan untuk hal-hal yang negatif, hura-hura yang dapat menjerumuskan kita kedalam lembah kejahatan.
Semua ayah di dunia ini berharap anak-anaknya melewati masa-masa mudanya dengan baik dalam mencari ilmu, mencari pekerjaan, bahkan dalam hal mencari pasangan hidup (suami dan istri) sekalipun. Jika semua itu terwujud, seorang ayah akan bangga atau merasa berhasil dalam mendidik anak-anaknya. Semua itu dilakukan agar kelak anak-anaknya tidak menyesal dikemudian hari.
1)
Edisi: 3

SAUDARA
Oleh Tri Kurniawati (XIA)


Kita pasti sudah mendengar dan mengenal betul dangan baik siapa saudara itu? Bagi kita saudara adalah seseorang yang hadir dalam hidup kita sekaligus segalanya bagi kita. Kenapa mereka tak mengerti betapa pentingnya saudara dalam kehidupan kita. Bagi mereka sosok saudara hanyalah seorang penggangu serta mereka takut kasih sayangnya terbagi.
Tapi, masih ada juga seseorang yang masih beranggapan bahwa sosok seorang saudara adalah sebuah kehidupan yang penuh dengan arti, betapa pentingnya saudara itu. Betapa berartinya kehadiran saudara dalam kehidupannya. Ada yang merasa tanpa saudara merasa sepi dan sendiri, itu memang sering kali terasa. Tanpa saudara kita tidak punya teman untuk berbagi suka maupun duka. Terkadang ada yang bilang punya saudara nggak enak dia kejam suka menang sendiri, padahal itu semua belum tentu, karena saudara adalah seseorang yang akan memberikan kita yang terbaik dengan penuh kasih sayang bukan malah mengambilnya dari kita.

Arti Penting Seorang Saudara
Teman-teman semua pastilah kalian semua sudah mengetahuinya. Peran saudara dalam hidup kita! Kebanyakan dari mereka mengatakan bahwa saudara adalah sesosok yang entah lebih tua dari kita ataupun sebaliknya lebih muda dari kita. Peran seorang ayah juga sama dengan peran seorang saudara. Saudara kita lebih tua misalnya, dia bisa nggak bisa harus bertanggung jawab dengan keluarga dan adik-adiknya. Dan dia juga haruslah senantiasa berusaha untuk membahagiakan akan keluarganya demi terwujudnya kebahagiaan, kedamaian, ketentraman, kebersamaan, serta keharmonisan dalam ruang lingkup kehidupannya bersamaan dengan keluarganya. Belum lagi perjuangannya untuk meraih cita-cita demi hanya membuat dirinya dan keluarganya bangga. Tapi semua itu akan terasa lebih mudah jikalau seorang saudara selalu berkorban demi terwujudnya motivasi dalam hidup keluarganya yang diinginkan. Tentu saja semua harus kita lakukan denagn niat yang tulus ikhlas.

Kehadiran Seorang Saudara
Dalam hidup kita seorang saudara pastinya selalu ada disamping kita. Menemani kita dalam keadaan apapun baik suka maupun duka. Baik kita dalam keadaan gundah, sedih, dan putus asa. Disaat kita membutuhkan support dari seorang saudara disaat kita menghadapi ujian ataupun masalah apapun. Misalnya saja disaat mengikuti lomba kejuaraan atau apa. Nah disinilah peran saudara sangat diperlukan. Mungkin benar tak selamanya saudara harus ada. Tapi tanpa saudara kita juga tidak bisa merasakan betapa indahnya hidup ini. Betapa susahnya kita saat ingin bantuan tidak punya saudara. Ingin curhat nggak punya saudara kalau sama teman belum tentu dia dapat dipercaya.
Bersih-bersih rumah sendiri, jalan-jalan sendiri maskipun punya banyak teman tapi bosan juga. Kadang-kadang merasa iri dengan temanya yang begitu bahagia dengan saudaranya. Kemana-mana selalu bersama saudara hanya denganya kita dapat bercanda bersama untuk melepas semua beban dihati dan tanpa adanya saudara. Menghandalkan teman untuk berbagi? Padahal tak selamanya teman dapat dipercaya. Meski sahabat adalah suka duka kita. Tapi….sampai kapan. Meskipun sahabat sudah bertahun-tahun dengan kita itu masih bisa mengkhianati kita.
Nah, buat apa susah-susah mencari seseorang yang sangat diperlukan kan sudah ada saudara jadi kita nggak usah bingung-bingung karena dengan saudara saja semua dapat terlaksana tapi harus kalian ingat-ingat juga tak selamanya saudara harus berperan dalam kegiatan atau apapun yang kita kerjakan. Karena kita juga membutuhkan orang lain. Bukan saudara saja.

Punya Saudara Why Not ?
Ada yang bilang bahwa punya saudara nggak enak apa-apa selalu dibagi-bagi, pingin ini pingin itu takut entar direbut, mau disayang ortu takut diambil, mau dimanja takut dialihkan, padahal tanpa adanya saudara juga nggak menyenangkan, karena bagaimanapun juga yang namanya anak pastilah ortu sayang sama kita. Bukan berarti ortu nggak sayang sama kita, sayang kan harus berbeda-beda mungkin dengan bentuk lain ortu berikan pada kita. Tapi hanya orang yang tidak tahu anugrah yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita berupa saudara itulah kebahagiaan akan datang, jangan pernah berfikiran kehilangan kasih sayang orang sekitar kita dengan adanya saudara malah itu semua salah besar karena saudara adalah segala-galanya bagi kita.
Coba kalian bayangkan kalau seandaianya tidak ada saudara apakah kalian bisa mendapat dan merasakan kasih sayang dari seorang saudara. Apakah kalian tak merasa kehilangan? seharusnya kalian iri dengan teman-teman kalian yang punya saudara. Mereka bisa bercanda tawa, selalu bersama berbagi baik suka maupun duka, saling bertukar cerita. Seharusnya kalian merasa kehilangan semua itu dan merasa iri untuk mendapatkannya bukan malah membencinya hanya kalian takut kehilangan cinta dan kasih sayang dari orang-orang terdekat kita. Harusnya kalian menyadari kehadiran saudara sangat berharga bagi kita.

Untungnya Punya Saudara
Banyak sekali yang kita dapat dari adanya saudara ini. Banyak sekali yang kita peroleh dari saudara kita. Saudara itu banyak memberikan pada kita segalanya yang kita butuhkan. Sampai-sampai terkadang kita tidak menyadari betapa besar pengorbanan saudara kita. Demi apa yang kita inginkan saudaralah yang akan membantu bukan orang lain. Dia berjuang mati-matian demi kebahagiaan kita. sampai-sampai tak menghiraukan dirinya sendiri.
Bayangkan mampukah kita hidup tanpa saudara? Tidak! Karena apa? Karena saudaralah yang paling setia disamping kita bukan orang lain. Dengan adanya saudara pekerjaan kita jadi ringan, dengan adanya saudara kita saling menjaga, dengan adanya saudara kita saling bertukar pendapat, terus belum lagi saat saat kita bersama bercanda ria bersama. Nah disinilah hal yang paling menarik dari adanya kehadiran seorang saudara.
Jadi saya sebagai penulis hanya bisa berpesan jangan kalian merasa takut dan iri dengan saudara kita. Karena saudara kita nggak akan pernah membuat kita kecewa malah saudaralah yang akan memberi kebahagiaan bukan penderitaan dan ingat-ingat kalian wahai teman-temanku kasih sayang ortu adalah sepanjang masa dan tak akan terbagi oleh hadirnya saudara disamping kita.
Jadikanlah saudara sebagai teman tidurmu.
Jadikanlah saudara sebagai teman dalam setiap hidupmu.
Jangan pernah membencinya
Jangan pernah kehilangan semuanya
Karena kedatangan seorang saudara
brother and syster is the best in live we

Selamat Datang

Anda masuk ke dalam komunitas Majalah Kamus,majalah yang dikelola oleh Siswa-siswi MI. MTs.MA. Al-Musthofa Canggu Jetis Mojokerto