Tampilkan postingan dengan label Kismis (Kisah Misteri). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kismis (Kisah Misteri). Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Desember 2010

LDKS
Oleh: Evi Cahyani (IXC)

Siang hari tepat matahari berada di atas, di depan sekolah orang- orang yang telanjang kaki. Mereka berlarian tak tahan akan panas matahari yang membuat kaki mereka kriting. Tak terbayang oleh Mega betapa panasnya waktu itu. Tapi untungnya Mega tak telanjang kaki, dia bersepatu, berseragam, dan berjilbab. Memang waktu itu Mega sedang berangkat sekolah. Saat Mega meletakkan tasnya di meja, tak disangka di balik sorogan ada sepucuk surat. Tertulis di amplop surat itu untuk Mega. Tapi tak tahu sumber surat itu dari mana. Dan surat itu berisi:

To: Tria Mega Ade Wilujeng
Hatiku bergetar ketika melihatmu
Aku selalu teringat oleh senyumanmu
Indahnya suasana jika dilengkapi dirimu
Mega....!
Oh sayank...!
Nampaknya dirimu,
Yang mempesona
Entah apa yang ku rasakan selama ini
Terasa nyaman jika ku dekat denganmu

“Wow, so sweet!. Aku nggak nyangka kalau aku punya penggemar rahasia” kata Mega dengan senyum-senyum sendiri. Di telitinya surat itu. Ternyata di balik surat itu tertulis:
BLZ yaow.....! di surat tadi kamu ambil huruf depannya saja.
Di lihat oleh Mega, setelah Mega melihatnya, begitu kesalnya dia.
“Reeseek...!. kata-kata romantis tapi kalau di ambil huruf depannya jadi HAI MONYET. Emang aku monyet apa.” ucapnya kesal.
“Mirip...” sahut Elo.
“O.. tak sihir jadi tempe kamu ya.”
Begitu cueknya Elo mendengar kata sihir itu. Bel masuk berbunyi, pelajaran pertama, pelajaran kedua telah di lewati. Tepat pukul 15.00 bel istirahat berbunyi. Meskipun istirahat, siswa-siswi tak luput dari tugasnya, yaitu sholat Ashar. Setelah sholat Ashar barulah mereka istirahat.
“Pengumuman bagi anggota OSMA baru, harap berkumpul di ruang OSMA sekarang juga” suara dari speaker.
“Pasti membahas tentang persiapan LDKS besok. Wow, asyik!” kata Mega penuh semangat, karena ada cowok idamannya yang ikut OSMA juga. Dalam rapat OSMA tersebut Mega tak kosentrasi dalam rapatnya. Dia malah memandangi cowok idamannya yang biasa dia sebut sebut sebagai Padam (pangeran Dalam Mimpi)
***
Karena berangkat LDKSnya pukul 07.00, di malam harinya Mega menyiapkan peralatan yang perlu di bawa.
Keesokan harinya di waktu pemberangkatan menuju villa, Mega dan teman-temannya bernyanyi dengan riang. Perjalanan ke Villa telah ditempuh, kini semua siswa masuk dan menikmati suasana di Villa yang ada di Trawas, tepatnya di Villa Bukit Hijau.
“Hei bro. Biasanya nih di Villa- villa itu ada penghuninya. Kakak aku kemarin kan habis pulang dari LDKS, katanya teman-temannya itu banyak yang lihat hantu, dan ada juga yang kesurupan. Pokoknya serem banget deh!” kata Rossa dengan mengepalkan tangannya.
“Masak sih, aku nggak percaya. Aku juga sering mendengar dari orang-orang kalau setiap rumah itu ada penghuninya. Tapi buktinya aku nggak pernah tuh lihat hantu-hantu kayak gitu. Jujur ya, aku hanya pernah lihat hantu itu cuma difilm doang. Lihat secara langsung tuh aku nggak pernah” jelas Mega.
“Ya udah kalau gitu aku do’a kan supaya nanti malam kamu di hantui beneran” kata Rossa.
“Hantu aja di takutin. Derajatnya kan masih tinggi manusia dari pada makhluk halus kayak gitu” katanya dengan rasa tanpa takut sedikitpun. “Kalau pun aku nanti di hantui, tinggal baca ayat kursi doang, hantunya kan pasti udah takut” tambahnya.
“Ya terserah kamu aja lah. Aku kan cuma kasih tahu kamu aja” jelas Rossa.
“Emang kamunya aja yang penakut .”
Karena waktu LDKSnya hanya dua hari satu malam, Mega ingin memanfaatkan waktu itu dengan baik. Di sela-sela permainan Mega pun tak luput dari sikap agresifnya kepada Padam. Namun Padam pun kesal derngan sikapnya Mega.
“Sebentar ya Meg, aku mau ke belakang dulu” kata Padam mencoba untuk menghindar.
“Aku ikut ya?” kata Mega.
“Toiletnya itu ada di dalam kamar. Kamu kan cewek, masak ikut ke kamar cowok. Lagian kamar aku ada di lantai bawah.” jelas Padam.
“Aku nunggu kamu di luar kamar. Ya? boleh ya? Please! rayu Mega.
“Ni anak nyeselin banget sih. Aku kerjain aja ah.” kata Padam dalam hati.
“Ya udah. Ayo...!” ajak Padam.
“Asyik...!” kata Mega. Dengan semangat dia mengantar Padam. Dalam perjalanan ke lantai bawah, Mega terasa ada sesuatu yang aneh. Di belakangnya seperti ada seseorang yang yang mengikutinya tapi dia tak begitu peduli sebab hanya Padamlah dalam pikirannya sekarang.

Padam melaksanakan niatnya ngerjain Mega, dia berlari meninggalkan Mega. Mega pun juga ikut berlari menyusul Padam. Namun akhirnya Mega terjatuh. Tepat di saat itu juga lampunya tiba-tiba mati.
“Padam kamu dimana? Jangan ngerjain aku kayak gini donk. Kamu pasti bikin aku takut ya? aku nggak takut tahu!” suara Mega sangat nyaring. Sesungguhnya Mega juga takut waktu itu, tapi dia tak mengakuinya.
“Aw...! kata mega. Dia merasa ada yang menarik kerudungnya. Di suasana yang petang itu, seperti ada yang menjanggal di hati Mega. Di depan, belakang, samping terasa ada seseorang yang mengawasinya. Berdiri pun terasa ada yang pegang rapat kakinya. Mega mencoba baca ayat kursi. Tapi sayangnya dia tak hafal. Dia pun menangis ketakutan. Sedangkan Padam entah sudah pergi kemana.
“Plis... biarkan aku pergi dari sini. Aku nggak kenal kalian. Plis... aku mohon.” Kata Mega dengan tangisan karena takut. Mega mencoba berdiri lagi. Sudah terasa kakinya tak ada yang menjanggal. Dia berjalan pelan-pelan menaiki tangga. Namun Mega terjatuh lagi. Di saat dia berdiri, tiba-tiba,
“Waaa...!?!, suara teriakan Mega. Sungguh kagetnya dia di waktu berdiri tampak kepala yang melayang. Dia berlari menaiki tangga dengan sekuat tenaga. Hembusan nafasnya tersendat-sendat karena rasa takutnya itu. Mega pun berhenti untuk mengatur nafasnya. Tak lama kemudian terdengar suara berisik.
Diikutilah asal sumber suara itu. Dan ternyata suara itu berasal dari tempat anak-anak bermain. Saat itu juga cahaya lampu pun bisa menyala.
“Alhamdulillah...!” ucap Mega bersyukur karena sudah terbebas dari suasana misterius. Untuk menghilangkan rasa takut itu. Mega bermain-main dengan temannya.
“Elo, tolong fotoin kita bertiga dong.” Suruh Mega dan kedua temannya.
“Ye enak aja. Aku buru-buru nih ambil kamera di Pak Hadi” kata Elo.
“Ayo ta, cuma bentar doang kok” rayu Mega.
Elo pun akhirnya memotret Mega, Ayu, dan Elis dengan memakai Hpnya Ayu. Karena terburu- buru Elo langsung pergi tanpa melihat hasil potretannya itu. Lalu mereka bertiga berebutan ingin melihat hoto mereka yang narsis itu. Setelah di lihat begitu kagetnya mereka bertiga. Ternyata di dalam foto itu ada sosok kepala yang bergelantungan di sampingnya foto Mega. Wajahnya menyeramkan. Mega pun tak heran setelah melihat kepala itu karena sebelumnya dia sudah melihatnya di waktu dia jatuh di tangga tadi. Di hapus lah foto itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 00.00. sudah waktunya mereka tidur.
“Ayu, aku nggak bisa tidur nih! Aku takut,” Kata Mega.
“Sama aku juga takut. Aku masih terbayang-bayang sama foto tadi!” jelas Ayu.
“Berarti Villa ini memang angker donk!” tambah Elis.
“ Memang semua Villa itu emang agker. Memang kenapa? Habis di hantui ya.?.” sahut Rossa.
“Eh, aku nggak ngomong sama kamu ya!” bentak Mega.
“Sudah. Sudah. Koq kalian berantem sih!. Udah kita tidur aja sekarang, kalau emang nggak bisa tidur ya nggak usah tidur. Anak- anak banyak yang nggak tidur tuh. Merteka ngerumpi,” saran Ayu.
Keesokan harinya tepat pukul 04.30 mereka bangun untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah. Waktu demi waktu mereka lalui. Dan tak terasa waktu cepat sekali berputar. Hingga akhir kegiatan yang sudah mereka nanti-nanti yaitu berenang. Namun bayangan-bayangan misterius itu tidak bisa hilang di fikiran Mega. Di saat teman-temannya berenang, dia malah melamun sendiri. Pak Hadi pun datang menghampiri Mega.
“Ada apa? Kok lemes. Ada masalah ya?” tanya Pak Hadi.
“Enggak kok Pak, saya hanya bingung aja!” jawab Mega.
“Bingung kenapa?” tanya singkat Pak Hadi. Akhirnya Mega menceritakan kejadian-kejadian yang aneh tadi malam.
“Oh gitu. Memang kebanyakan Villa ya seperti itu. Mungkin sebelumnya ada orang yang meninggal dengan keadaan yang tak wajar. Dan akhirnya dia gentayangan. Bapak ya sebenarnya nggak tahu cerita aslinya. Tapi kemarin bapak sempat melihat seorang wanita berbaju putih lagi bermain ayunan sambil bernyanyi. Tapi bapak biarkan saja. Dan akhirnya dia hilang dengan sendirinya. Sudahlah nggak usah di fikirkan. Itu semua wajar kok!” tutur Pak Harso.
“Oh gitu ya, Pak? Tapi saya tetap takut Pak.”
“Nggak usah takut selama kamu nggak mengganggu mereka, kamu nggak akan diapa-apain paling juga kamu dibayang-bayangi saja. Oke jangan melamun saja, sana ikutan berenang dengan temanmu!”
Mega menganggukkan kepala dan langsung berlari. Hatinya tetap merasa takut, meski begitu sekuat hatinya dia akan melawan ketakutan itu nanti malam. Mega tersenyum sendiri. Ah, pengalaman yang mengerikan sekaligus sukar dilupakan.

Minggu, 03 Oktober 2010

PERKEMAHAN KELABU
Oleh: Evi Cahyani

Suasana di sekolah sangat sepi, tidak ada seorang pun. Disana hanya ada Tika seorang. Tika berangkat lebih pagi karena hari itu adalah hari pertama Tika Pramuka.
“Hai Diar…kok baru datang?” sapa Tika pada Diar yang baru datang.
Diar tidak menjawab pertanyaaan Tika. Dia hanya memberikan senyuman dengan wajah yang pucat. Dia juga langsung pergi kekamar mandi. Sedangkan Tika hanya memperhatikannya tertegun.
Hampir sudah 1 jam Diar keluar dari mandi. Padahal banyak anak sudah datang, upacara pramuka akan segera dimulai. Tika takut terjadi apa-apa dengan Diar. Akhirnya Tika menyusul Diar biar Diar keluar dan ikut upacara. Langkah demi langkah Tika semakin deg…deg…an. Belum sampai dikamar mandi pembina sudah menbunyikan peluit. Itu pertandanya upaca pramuka akan segera dimulai. Dalam hitungan ke-5, semuanya harus sudah ada dalam barisan.
Karena peluit itulah Tika mengurungkan niatnya untuk ke kamar mandi, langsung saja dia berlari masuk barisan. Sewaktu tika berlari dia merasa seperti ada mengikutinya dalam belakang. Setelah Tika sudah ada dalam barisan, Diar juga belum muncul. Hati Tika sedikit lega ketika sebentar kemudian kelihatan batang hidung Diar yang langsung membentuk barisan.
“Diar….! Kok tumben sich datangnya telat?” anya Sari
“Soalnya aku nggak ada yang nganterin,” jawab Diar.
Mendengar pembicaraan mereka, Tika semakin bingung. Aneh, Diar dibilang baru datang padahal Diar khan sudah datang dari tadi hanya saja dia di kamar mandi lama sekali. Karena ebingungan sampai-sampai Tika tidak mendengarkan pengumuman dari kakak pembina.
“Hoer...,” teriak anak-anak.
“Eh..emangnya ada apa sich, kok semuannya pada senang kayak gini?” tanya Tika.
“Sebentar lagi kita kemah di Sumber Boto,” jawab Sari.
“Apa…?! yang bener kamu. Yes…yes…yes…” kata Tika semangat.
Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 mereka semua istirahat. Tika jajan ke kantin yang dekat kamar mandi. Tika melihat sesosok yang mirip Diar keluar dari kamar mandi. Padahal Diar ada disamnpingnya sedang ambil jajan.
“Diar entar habis ini kita duduk diserambi masjid ya..? ada yang mau aku omongkan ke kamu.” ajak Tika
“Ok….bos,” jawab Diar semangat.
Setelah duduk diserambi masjid, Tika belum sempat omong-omong banyak. Baru saja dia akan omong permasalahan tadi tapi...
“Aduh… maaf ya…? Aku benar-bebar lupa kalau aku ada janji sama teman,” ucap Diar kelihatan sekali dia merasa bersalah.
“Ya deh, ntar setelah pulang pramuka aku langsung kerumah kamu saja,” Kata Tika sambil menghela nafas berat.
“Nanti pulangnya bareng ya ya…?” ajak Diar.
“Ya bosss….” jawab Tika.
“Ayo semuannya absen dulu, habis itu pulang,” kata Kak Tanti salah satu pembina.
Sesudah absen Tika ke rumah Diar dan menceritakan kejadian aneh yang dialaminya. Tapi sayangnya diar nggak percaya.
“Ya…ampun…, aku tu nggak bohong, aku serius.”
“Oh…aku tahu, kamu mau nakut-nakutin aku kan. Supaya aku takut, iya..kan?”
“Ya udah deh kalau kamu nggak percaya, percuma aku jelaskan ke kamu. Sampai dower pun kamu nggak bakal percaya sama aku,” kata Tika kesel.
“Mau mulut kamu dower kek…monyong kek… kamu mau jadi monyet kek. Itu terserah kamu. Tapi kalau menurut aku nich ya…kamu pantas kok jadi monyet,” canda Diar.
“Terserah kamu mau bilang aku apaan, udah ah, aku mau pulang dulu. Kalau disini terus telingaku bisa keriting,” sungut Tika.
“Ce…ile…gitu aja marah. Dasar nenek lampir.”
“Kamu itu yang jadi Grandongnya,” kata Tika.
Sampai di rumah Tika langsung tidur. Hari demi hari Tika lalui. 2 hari lagi Tika kemah. Kejadian misteri yang dialami Tika sudah tidak nampak kembali. Saat Tika sedang lari pagi, diitengah jalan Tika bertemu dengan kak Tanti. Mereka mampir di warung untuk sarapan. Mereka cerita tentang kisah misteri. Tika ingat dengan kejadian aneh yang dialaminya minggu lalu. Karena kak Tanti tetangganya Diar, kak Tanti langsung mengerti.
Kak Tanti bilang kalu Diar punya saudara kembar, namannya Dira. Dira meninggal disekolahan gara-gara penyakitnya kambuh. Karena kambh itulah Dira terjatuh waktu ke kamar mandi. Sebelum dibawa kerumah sakit, Dira sudah tak bernyawa. Dia dikubur dipemakaman yang ada disamping sekolah.
“Mungkin dia menghantui kamu, karena kamu teman dekatnya Diar. Semenjak dia hidup dia nggak punya teman gara-gara dia penyakitan. Mungkin dia ingin kamu menjadi teman yang baik untuk Diar,” Tambah kak Tanti.
Kini jadi jelas, Tika begidik mendengarnya.
***
Pagi-pagi Tika siap-siap untuk mempersiapkan keberangkatannya. Pukul 11.00 Tika berangkat ke sekolah dengan membawa barang-barang. Tepat pukul 14.00 rombongan pertama berangkat, Tika termasuk di dalamnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 ketika rombongan terakhir tiba di Sumber Boto.
Pukul 21.00 Tika kepingin kencing. Tika pergi kekamar mandi sendirian. Waktu Tika menutup pintu kamar mandi tiba-tiba lampunya padam dan pintunya terkunci. Tika sangat ketakutan ipaun teriak-teriak minta tolong. Tapi tak ada seorangpun yang mendengarnya. Semalaman dia teriak naumn bantuan tak juga datang. Ia lemas, putus asa. Hanya tangis tertahan yang ia keluarkan. Sebab suaranya sampai habis untuk teriak tadi.
Syukurlah Tuhan menolongnya tepat pukul 4.00 pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka. Kontan saja dia berlari menubruk yang membuka ternyata Kak Tanti. Sedang Kak tanti hanya senyum-senyum saja ia tahu pasti Tika barusan digoda penghuni Sumber Boto yang terkenal angker.
“Sudah selesai ya Tik? Emangnya kamu kemana aja sih?” tanya Diar.
“Kemaren sore itu aku terkunci disini. Aku teriak minta tolong, nggak ada yang nolongin. Akhirnya aku ketiduran disini,” jawab Tika.
“Jadi kamu ketiduran di kamar mandi, masak sih? Walah…walah…kamu jangan-jangan bohong deh. Jeles-jelas tadi malam kamu ada kok.” kata Diar.
“Terserah kamu percaya atau nggak, males ngomong sama kamu,” sungut Tikasambil ngeloyor pergi meninggalkan Diar yang terbengong-bengong.
Tibalah sesi penjelajahan. Semua regu bersemangat 45 megikuti. Tanpa terasa mereka sampai di tengah-tengah hutan. Terlihat Diar dan Tika yang sedang asyik ngomong. Mereka tak tahu bahwa jalan yang mereka tempuh tidak sesuai dengan peta yang dibawakan oleh panitia. Di tengah-tengah hutan barulah mereka sadar.
“Tik, jangan-jangan kita kesasar nih?” kata Diar cemas.
“Aku rasa memang begitu, lihat saja teman-teman kita nggak ada yang terlihat,” terlihat sekali kalau Tika sama sekali tidak khawatir.
“Kamu ini gimana sih, kita ini kesasar koq tenang-tenang saja.”
“Ya mau apa lagi, daripada cemas ya kita cari jalannya dong. Daripada cemas tapi nggak melakukan apa-apa”
“Ya sudah yuk kita cari jalannya, biar kita nggak kemalaman di sini. Lihat tuh mataharinya sudah mau tenggelam.”
Mereka melanjutkan perjalanan tapi hampir satu jam tak juga mereka menemukan jalannya justru mereka semakin masuk ke dalam hutan. Mereka semakin cemas. Tapi untunglah di kejauhan terlihat sosok manusia yang sedang berjalan. Berlarian mereka mengejarnya. Ternyata sosok itu adalah seorang nenek yang berpakaian kumal. Agak ngeri melihatnya.
“Maaf Nek, tahu nggak tempat perkemahan anak sekolah?” tanya Tika ketika mereka sudah saling berhadapan.
“Memang kenapa Nak?” tanya nenek itu.
“Kami kesasar, Nek,” jawab Diar.
“Oh, jangan khawatir, kalian sudah dekat koq, lurus saja ke utara, kalau ada batu besar belok ke timur nah skitar seratus meter dari situ pasti kalian akan melihat perkemahannya,” terang Nenek panjang lebar.
“Makasih, Nek,” kata Diar.
“Sama-sama.”
Tak membuang waktu mereka langsung berjalan menuju jalan yang ditunjuk nenek itu. Sekitar sepuluh langkah. Tika menoleh ke belakang. Aneh, nenek itu sudah tidak ada lagi.
“Diar, nenek tadi mana, koq sudah nggak ada?” Diar menoleh juga. “Jangan-jangan...” suara Tika terputus.
Diar tidak menjawab. Tapi langsung saja dia menyeret Tika segera berlari. Bulu kuduk mereka berdiri. Nafas mereka ngos-ngosan. Ketika hampir sampai di batu besar tadi Tika terjatuh.
“Aduh... Diar tolong aku,” teriak Tika sambil menoleh kebelakang sebab Diar kalah cepat larinya dengan Tika. Ternyata dibelakang Diar juga nggak ada.
“Diar...Diar... kamu dimana?” Tika teriak-teriak. Dia semakin ketakutan padahal sangat jelas tadi Diar ketinggalan di belakangnya. Tanpa menunggu waktu Tika langsung bangkit. Alangkah terkejutnya setelah Tika bangun ternyata batu besar yang dilihatnya tadi adalah gundunkan tanah kuburan. Tika pucat pasi. Kini dia sendirian. Tanpa ba bi bu lagi Tika ambil langkah seribu menuju arah yang ditunjukkan nenek tadi. Dia tak peduli salah atau tidak yang penting saat ini dia mencoba.
Syukurlah sebentar kemudian dia sudah melihat pucuk-pucuk tenda. Hatinya lega. Tapi tenaganya sudah habis. Maka dia teriak-teriak minta tolong. Hampir habis suaranya tapi rasanya nggak ada yang mendengar suaranya. Diapun memutuskan untuk menuruni jalan setapak di hadapannya. Tapi malang. Tika sudah tidak punya tenaga lagi. Perutnya lapar bukan main dari saing belum terisi makanan. Tubuhnya limbung. Pingsan.
Ketika membuka matanya, beberapa pasang mata merubunginya.
“Kamu kemana saja sih Tik, aku cari-cari seharian sampai pegal kakiku,” sungut Diar.
“Justru aku mau nanya kenapa kamu meninggalkanku?”
“Siapa yang meninggalkanmu, di tengah jalan tadi khan kamu mendahului aku, eh setelah nyampai di kemah kamunya sudah nggak ada,” elak Diar.
“Nggak tahu, Di. Aku tadi tiba-tiba koq terpisah dari rombongan. Padahal aku tadi ditemani kamu juga. Tapi di suatu tempat yang ternyata kuburan kamu menghilang. Aku takut, Di,” Tika menangis sesenggukan. Diar memeluknya.
“Sudah-sudah jangan menangis. Kamu sudah selamat. Mungkin kamu tadi nggak berdo’a seperti yang di ajarkan oleh Kak Tanti.” Tika mengingat-ingat.
“Iya Di, aku tadi memang nggak berdo’a seteperti teman-teman kita.”
“Makanya, kamu turuti dong apa kata pembina. Tahu nggak yang mengalami kejadian seperti kamu ini ada sekitar delapan anak. Dan memang semua nggak mau berdoa. Mereka meremehkan kata pembina,” lanjut Diar. “Pasti kamu sudah lapar, ayo makan.”
Tika bangkit, benar memang perutnya lapar bukan main. Segera saja dia berdiri dan mengajak Diar. Dalam pikiran Tika rasa-rasanya dia nggak akan melupakan kejadian misteri yang langka ini. Meski menakutkan Tika merasa beruntung bisa kembali seperti sedia kala.

Jumat, 04 Desember 2009

Taksi Itu........ (bag. 1)
: Alvin Catra Fuady

“Horee.... aku diterima Nek!” teriak Radit tiba-tiba. Tentu saja neneknya yang sedang terpekur ngantuk disore itu kaget bukan kepalang.
“Adiii...t, kamu ini bikin Nenek kaget saja, nggak pakai teriak nggak bisa ya?” neneknya pasang muka marah. Kelihatan sekali kalau marahnya Nenek hanyalah pura-pura. Sebab mana bisa marah dengan Radit yang sebatang kara tersebut. Sejak kecil memang Radit tinggal di Neneknya karena ditinggal Ibu dan Ayahnya meninggal karena kecelakaan.
“Eh..iya nek maaf. Habis saking senangnya nek. Sebab saya diterima di Universitas Brawijaya Malang Nek,” lanjut Radit.
“Benar begitu Dit? Kamu memang cucu nenek yang pintar. Selamat ya. sekarang kamu siap-siap mandiri ya. kamu khan akan kos di sana.”

***
“Ah...akhirnya kita sampai juga,” kata Radit terengah-engah kepada ketiga temannya yang sama-sama dari Surabaya.
“Haus nih, Dit minta minumnya gih!” kata Diana yang juga tak kalah letihnya.
“Nih, betul khan nggak jauh, gitu aja kamu mintanya ngojek yang ongkosnya mahal banget tadi,” kata Radit sambil menyodorkan botol air mineralnya.
“Ya nggak jauh, tapi tetap saja aku kecapekan. Habisnya kita khan bawa tas yang sangat berat!” bantah Rini yang saking capeknya sampai meniduri tas yang dibawanya.
“Sudahlah yang penting kita sekarang sudah tiba di rumah kos kita ini,” kata Ari mencoba menengahi.
“Dit, benar nih rumah yang akan kita tempati?” tanya Diana penasaran.
“Ya benar dong, emang kenapa?” Radit balik bertanya.
“Kayaknya ada yang aneh deh, masak rumah sebesar dan sebagus ini, koq ada taksi jelek di depannya. Apa nggak salah tempat tuh taksi.”
“Menyeramkan ya Ar?” Rini bangun dari tidurnya.
“Iya..ya ah tapi masak bodohlah. Yang penting kita dapat tempat kos yang besar dan murah. Tahu khan rumah ini kita disuruh menempati berempat dan hanya membayar 200 ribu.”
“Tahu...tahu, itu berarti kita masing-masing cuma bayar 50 ribu.” Sergah Rini.
“Iya Rin, padahal ditempat lain khan kita diharuskan bayar 100ribu perorang.” Tambah Diana.
“Eh koq ngomong terus sih, yuk kita masuk. Mandi dan tidur dulu. Capek banget nih!” ajak Radit.
Akhirnya mereka masuk dengan kunci yang diberikan oleh pemilik kos tadi pagi. Memang suasananya agak lain dibandingkan rumah di sekelilingnya. Di sekitar rumah banyak tumbuh pohon yang besar-besar. Rimbun. Dan tentu saja menambah kesan angker rumah tersebut. Tapi siapa peduli. Diantara mereka berempat tak sempat memikirkan hal tersebut. Yang penting dapat rumah kos yang besar dan tentu saja murah.
***
Malam hari tiba. Setelah hampir empat jam mereka istirahat. Kini mereka sedang menikmati acara televisi yang kebetulan menayangkan film nasional Kuntilanak 2.
“Ar, pindah dong channelnya. Serem. Kamu tahu khan aku paling nggak suka lihat film horor!” kata Rini.
“Kamu ini cerewet banget sih. Yang nggak suka khan cuma kamu. Jadi ya ngikut aja non,” jawab Ari.
Tok..tok.. ketukan pintu terdengar dari depan. Sejenak mereka berpandangan. Baru sehari mereka tinggal di rumah ini koq sudah ada tamu ya.
“Rin, buka dong pintunya!” suruh Radit.
“Enaknya kamu sendiri dong,” elak Rini.
“Tanggung nih, acaranya lagi seru nih.”
“Hah, kalian ini buka pintu aja pakai bertengkar dulu. Aku saja yang bukakan” kata Diana sembari beranjak dari duduknya.
Dibukalah pintu itu. Ternyata yang mengetuk pintu adalah seorang cewek. Cantik sekali tapi aneh. Bibirnya bukannya kemerahan melainkan putih seperti habis kena tepung. Sedangkan sorot matanya kosong. Memakai baju bagus sekali putih semua. Diana terhenyak. Perasaan aneh menggelayut.
“Ada apa mbak?” tanya Diana mencoba mengusir perasaan aneh tersebut.
“Baru tinggal di sini ya mbak?” tanya gadis itu tanpa ekspresi.
“Iya..Mbak ada perlu dengan kami?”
“Nggak Mbak, cuma mau mengucapkan selamat ya berani tinggal di sini, hati-hati ya Mbak. Saya tinggal di sekitar sini. Kalau ada perlu tinggal panggil saya ya?” lagi-lagi tanpa raut muka yang jelas.
“Oh gitu, ya Mbak nanti saya kasih tahu teman-teman, rumah Mbak sebelah mana?”
“Besok aja saya kasih tahu. Permisi Mbak,” cewek itu pamitan tanpa minta persetujuan Diana langsung balik jalan.
“Siapa Din, kamu suruh masuk orangnya,” teriak Ari dari dalam.
“Tetangga kita, cewek Ar!” teriak Diana sambil menoleh ke dalam. “Mbak...” belum sampai diteruskan kata-kata Diana cewek itu sudah tidak ada padahal dia barusan pamitan sedangkan jarak antara teras dan pagar halaman lebih dari 50meter. Aneh, kuduk Diana seketika berdiri. Udara dingin menusuk badannya karena angin tiba-tiba berhembus. Cepat-cepat Diana menutup pintu dan agak berlari masuk ke dalam ruang santai.
“Mana ceweknya?” tanya Ari celingak-celinguk.
“Langsung pulang, Ar,” jawab Diana.
“Lho koq pulang, nggak kamu suruh masuk. Kamu koq kelihatan kedinginan Din?” tanya Radit.
“Maunya gitu, tapi dia keburu pulang. Ih..aneh deh cewek itu cantik tapi wajahnya kelihatan kusut dan agak pucat. Jangan...jangan..”
“Jangan-jangan apa Din?” tanya Rini penasaran memotong Diana.
“Sepertinya cewek itu bukan cewek biasa deh. Apa hantu? Hih....” Rini langsung beringsut mendekati Radit. Minta perlindungan.
“Kamu ini, ada-ada saja. Masak di tempat yang ramai begini ada hantu sih. Kita khan nggak di kuburan Din.” Bantah Ari.
“Eh, aku nggak ngarang nih, sebab waktu kamu tadi teriak dan aku menjawab khan ngomong membelakangi cewek itu. Nah, ketika aku menoleh cewek itu sudah nggak ada padahal dia barusan berjalan ke pagar, Ar.” Rini semakin merapatkan badannya ke Radit.
“Apa iya dia hantu. Ah..sudahlah kita tidur yuk, eh tapi sebentar cewek itu ngomong apa tadi?” tanya Radit juga merapatkan badannya ke Rini. Kelihatan sekali kalau memanfaatkan kesempatan.
“Dia cuma memberi selamat karena telah berani kos di sini.”
“Cuma gitu aja?” tanya Radit. Diana menggangguk. “Kos koq dikatakan berani ya?”
“Nah itu anehnya. Ah..sudahlah kita tidur ngantuk nih. Eh Rin lepasin tuh tangan Radit. Ketahuan pacar Radit tahu rasa kamu.” Rini buru-buru melepaskan tangannya dari Radit dengan tersipu-sipu. Baru sadar kalau dari tadi dia memegang tangan Radit.
***
Pagi-pagi sekali Diana bangun. Sementara temannya masih memeluk bantalnya masing-masing. Tidurnya malam tadi nyenyak sekali. Mungkin karena kecapekan setelah beres-beres rumah bersama teman-temannya. Rencananya pagi ini dia akan berbelanja. Tapi dia nggak tahu belanja kemana dia khan barusan kos di sini.
“Ah, tanya cewek kemarin ah.” pikirnya. “tapi dimana ya rumahnya, kemarin dia kan belum menunjukkan arahnya, ah masa bodo keluar dulu dari rumah ini nanti kan ada orang yang bisa kutanya.” Diana ngomong dengan dirinya sendiri.
Sesampainya di luar Diana celingak-celinguk sepi sekali. Padahal hampir pukul 05.30 Apa karena udara yang sangat dingin. Malang, ya Diana baru sadar kalau Malang adalah tempat dingin. Tiba-tiba mata Diana tertumbuk dengan sesosok bayangan. Tidak salah lagi bayangan itu adalah cewek yang kemarin malam datang kerumahnya.
“Hai..Mbak saya mau tanya?” teriak Diana. Cewek itu menoleh dengan tatapan dingin sejurus kemudian cewek itu langsung berbalik arah tidak menghiraukan Diana.
“Mbak, ini saya yang kos di rumah ini!” Diana berteriak lagi. Cewek itu semakin menjauh seakan-akan tidak mendengar suara Diana lagi. “Huh, katanya kemarin mau bantu aku. lha koq dipanggil cuek bebek gitu!” gerutu Diana. Untunglah sebentar kemudian lewat seorang ibu dan langsung ditanyai Diana. Ibu itu dengan ramah menunjukkan arah jalan ke pasar yang paling dekat. (bersambung)
***

Jumat, 28 Agustus 2009

Bus Hantu part :2
Oleh: Krisnawati (XII)

Setelah Disty dan Andre sampai di Semarang, mereka langsung istirahat di rumah masing-masing karena kecapekan. Mereka harus segera memulihkan kondisi mereka agar fit saat bekerja besok.
“Dengar-dengar kamu kemarin naik bus hantu ya?” Tanya Kania saat mereka ketemu di pabrik.
“Aku sendiri juga nggak tahu. Aku kira itu bus biasa, eh nggak taunya malah bus itu baru saja masuk jurang. Aku sama mas Andre nggak punya firasat apa-apa, jadi aku langsung naik aja,” jelas Disty.
“Makanya, jangan suka pergi malam. Apalagi untuk perjalanan jauh. Untung kamu nggak diseret ikut ke alam mereka,”cerocos Nia.
“Iya Nia, aku sekarang aku trauma untuk naik bus malam. Mungkin untuk saat ini aku nggak bakal naik bus untuk berpergian jauh,” kata Disty
Saat malam tiba, ketika Disty hendak tidur tiba-tiba hp-nya rupanya mas Andre yang sms, isinya: Tolong besok temani mas ke terminal untuk menjemput paman, bibk, dan keponakan mas yang baru datang dari bandung. Besok mas jemput pukul 07.00. Secepat kilat Disty menjawab : Ya mas, besok Disty tunggu.
Dan keesokan paginya tepat pukul 07.00 Andre menjemput Disty dengan menyewa mobil panther. Sesampainya di terminal, ternyata keluarga pamanya Andre sudah menunggu di depan terminal.
“Maaf ya paman, bi, karena Andre jemputnya telat. Bibi sama paman sudah lama menunggu ya?” tukas Andre.
“Nggak kok Ndre, nggak apa-apa Paman sama Bibi baru 10 menitan menunggu kamu di sini. O, iya, ini pasti Disty ya? Kenalkan saya pamanya Andre dari Bandung. Saya Hartono dan ini istri saya Hartini. Kamu di sini sama siapa?” tanya pak Tono.
“Saya di sini kost keluarga saya semua ada di Surabaya. Setelah lama berbasa-basi ahkirnya, Andre, Disty dan pamannya pulang ke rumah Andre. Di sana Paman dan Bibik Andre menginterogasi Disty panjang lebar sampai membuat Disty mengeluarkan keringat dingin saking canggungnya. Memang hubungan Andre dan Disty bisa dibilang memasuki ke jenjang yang cukup serius. Setelah lama berbasa-basi akhirnya Andre mengantarkan Disty pulang ke kosnya dan keesokan paginya Andre sengaja libur kerja karena ia ingin menemani pamanya di rumah .
“Kenapa paman melamun pagi-pagi gini? Memangnya apa yang paman lamunkan? tanya Andre keesokan harinya ketika melihat pamanya termenung sendiri di teras rumah .
“Ini lho Ndre tadi malam aku koq mimpi agak aneh,” jawab Pamannya.
“Mimpi apa paman?” tambah Andre .
”Paman mimpi diseberangkan di sungai oleh nenek-nenek membawa tongkat dan setelah meyeberangkan Paman, nenek itu berkata “hati-hati nak” dan nenek itu menghilang tiba-tiba.”

“Ah, itu mungkin hanya bunga tidur, Paman.”
“Yah..mungkin saja, cuma paman koq merasa ada yang aneh ya?”
“Percayalah Paman tidak ada yang akan terjadi dengan keluarga Paman.”
“Semoga saja, Ndre, Oh, ya sudah matang nggak, aku sudah lapar nih.”
“Lha ini tadi Andre ke sini mau bilang ke Paman kalau sarapan sudah siap.”
Merekapun berdua masuk ke dalam rumah untuk sarapan.
***
Malamnya, Andre datang ke kos-kosannya Disty. Saat berada disana, Andre menceritakan tentang mimpi paman semalam.Karena semenjak mendengar cerita pamanya Andre merasakan sesuatu yang ganjil, ia merasa ada yang aneh.
”Kapan rencana Paman akan pulang?” tanya Disty.
“Katanya besok sore. Tapi kalau itu jadi, emangnya kenapa?” tanya Andre balikk.
“Kalau emang rencana paman secepatnya itu lebih baik di tunda dulu. Dari pada nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.”
“Kalau gitu aku bicara sama Paman. Semoga saja beliau mau menunda kepergianya untuk sementara ini,” sahut Andre .
Saat itu Andre pun langsung pamit sama Disty dan bergegas pulang untuk bicara dengan pamanya. Ketika Andre sampai rumah Paman dan Bibinya sudah mengepak pakaian mereka ke dalam tas mereka masing-masing. Melihat hal itu Andre tak bisa berbuat apa-apa lagi .
“Paman memajukan rencana keberangkatan Paman yang awalnya sore menjadi pagi hari jadi kalau kamu mau kerja, kerja saja. Tidak perlu mengantar paman ke terminal,” ujar paman pada Andre.
“Besok Andre masih cuti satu hari. Jadi besok Andre dan Disty akan mengantar Paman dan Bibi ke terminal,” jawab Andre.
“Makasih ya Ndre.
“Sama-sama Paman,”
Pagi-pagi buta, Andre menjemput Disty lantas pergi ke terminal untuk mengantar paman dan bibi. Setelah sampai di terminal, Paman dan Bibi Andre melihat satu bus yang akan berangkat. Saat itu pula paman berlari masuk kedalam bus tersebut.
“Kamu hati-hati disini Ndre? Jaga diri Kamu baik-baik. Jangan sampai kamu salah jalan.” nasehat paman.
“Iya Paman, terimakasih atas nasehatnya. Paman dan Bibi hati-hati di jalan ya? Nanti kalau sudah sampai Bandung hubungi Andre ya paman, biar Andre tahu keadaan Paman” pesan Andre.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam,”
Buspun berangkat diiringi lambaian Andre. Ketika bus masih dalam kecepatan yang sangat rendah paman Hartono dan Bibi Hartini masih melambaikan tangan kearah Andre di pinggir pintu, namun entah darimana datangnya tiba-tiba dari belakang ada yang mendorong Paman dan Bibi hingga keluar dari bus tersebut. Merekapun terjungkal. Alangkah terkejutnya Paman ketika tahu bahwa yang mendorongnya adalah nenek-nenek yang muncul dalam mimpinya kemarin malam.
Tak salah lagi nenek itulah yang menemui Paman dalam mimpinya. Sayup-sayup Paman Hartono mendengar nenek itu bicara “Durung waktune nak!(belum waktunya nak!).” ucap nenek-nenek tersebut sambil tersenyum.
Sempat ada perasaan jengkel di hati Paman dan Bibi. Karena gara-gara keusilan nenek tersebut, terpaksa Paman dan Bibi harus menunggu bus berikutnya yang baru datang 2 jam lagi, untung bawaannya belum sempat di masukkan ke bagasi. Andre tentu saja mengejar mereka.
“Paman dan Bibi nggak apa-apa kan?”
“Nggak Ndre, sudahlah kita makan yuk pasti tadi kamu belum sarapan?” tebak paman. Andre mengangguk.
Satu setengah jam kemudian ketika mereka menunggu kedatangan bus mereka melihat TV bahwa bus jurusan semarang Bandung mengalami kecelakaan. Semua penumpang sekaligus sopir dan kernetnya tewas seketika.
“Lho, bukannya itu bus yang akan Paman tumpangi tadi?” tegas Andre kaget.
Paman dan Bibi tak dapat berkata-kata lagi. Mereka terlihat sangat shock. Namun, dalam hati, Paman berkata:
“Siapapun engkau nek, aku mengucapkan beribu-ribu terima kasih. Karena engkau telah menyelamatkan aku dan istriku dari kecelakaan maut tersebut.” Andre hanya terpana, dua kali dia mengalami kejadian aneh yang berhubungan dengan bus, akankah dirinya akan mengalami sendiri? Andre begidik membayangkannya.!

Selasa, 04 Agustus 2009

HANTU MUKA RATA
Oleh: Putri Nur Indah Sari (XIb)


Angin malam berhembus sepoi-sepoi, meskipun begitu dapat membuat gigi bergemurutuk menahan dinginnya. Malam semakin beranjak larut. Namun mataku tak dapat terpejam. Padahal malam itu waktu sudah menunjukkan pukul 22.00. Sedikitpun aku tidak dapat tidur. Meskipun masih terngiang di fikiranku perkataan teNangga kanan kiriku tenNang rumah ini. Aku memang baru menempati rumah ini bulan yang lalu. Namun, aku merasa nyaman tinggal di sini. Baru setelah orang-orang sekitar rumah ini membicarakan tenNang asal-usul rumah ini, aku jadi sedikit miris.
Mereka bilang bahwa kalau rumah ini sering sekali tampak ada seseorang yang menongolkan kepalanya di jendela, padahal warga tahu persis bahwa dirumah ini tidak ada penghuninya. Apalagi dulu sebelum ditinggal yang punya rumah ini pernah menjadi tempat pembunuhan seorang kakek oleh cucunya karena bertengkar masalah warisan.
Mungkin karena cerita itulah hingga fajar menyingsing aku belum juga dapat memejamkan mata. Terpaksa aku harus pergi kuliah dengan muka kucel akibat kurang tidur.
“Kenapa kamu Vi?” tumben-tumbenan muka kamu kucel. Biasanya selalu segar, cerah, dan berbinar-binar. Kamu sakit? selidik Renan sahabat baikku.
“Aku nggak apa-apa kok, cuma kurang tidur aja.”
“Beneran kamu nggak apa-apa?”, cerita aja ke aku, aku siap dengerin kapan aja.”
“Aku beneran nggak apa-apa Nan!”Aku berusaha meyakinkan Renan bahwa aku baik-baik saja, namun aku tidak dapat berbohong pada diriku sendiri bahwa aku sedang tertekan.
Pulang kuliah aku harus kerja. Maklum, aku tinggal sendiri dan jauh dari orang tua. Sehingga aku harus bekrja untuk menambah uang jajan. Dan aku bekerja hingga pukul 10 malam, untungnya aku membawa kendaraan pribadi, sehingga aku tidak sampai jalan kaki.
Saat tiba didepan rumah, aku merasakan suatu keanehan ketika akan membuka pintu, aku melihat seseorang mengamatiku dari balik pohon. Namun saat ku dekati pohon itu, orang tersebut sudah tidak ada. Tiba-tiba bulu kudukku berdiri, dan akupun memilih untuk masuk kerumah dan menguncinya rapat-rapat.
Kejadian itu tidak hanya sekali tetapi berkali-kali sampai akhirnya, . . .
“Hei, siapa kamu?” keluar kamu kalau memang berani, tunjukan dirimu!, jangan hanya bersembunyi dibelakang ku, mau kamu apa?”, kataku berteriak-teriak sendirian, namun tak ada jawaban.
“Please, keluar! Jangan membuntutiku. Aku sudah capek dengan semua ini. Ayo, keluar!!.” kataku dan untuk kesekian kalinya, dia tidak muncul.
Tiba-tiba pundakku dipegang seseorang dari belakang. Tap . . . dadaku berdegup dengan kencang. Aku menengok perlahan dan ternyata . . .
“Ngapain Neng malam gini teriak-teriak?”, Nanya seorang warga yang sedang ronda malam.
“Eh . . . Pak Tarjo, nggak ada apa-apa kok pak, cuma tadi saya lihat ada orang yang ngintip saya dari balik pohon itu.”
“Hati-hati aja Neng mendingan jangan pulang malam-malam bahaya!”
“Iya, Pak terima kasih.”
Setelah orang itu pergi, aku memilih masuk ke rumah dan tidur. Namun untuk kesekian kalinya aku tak bisa memejamkan mata. Aku benar-benar gelisah dan takut. Aku belum pernah merasa setakut ini sebelumnya.
Karena terlalu gelisah dan takut, sampai-sampai aku merasa haus. Aku melangkah dengan ketakuNan yang luar biasa. Namun kucoba menepis rasa itu. Ketika aku baru meneguk Soft Drink kudengar ada orang berjalan sambil menggesekkan kakinya dengan lantai. Gesekan antara kaki dan lantai menimbulkan bunyi, srekk…srekk…bunyi itulah yang terus ku dengar.
Aku meletakkan botol soft drinkku dan langsung menuju ke kamar. Belum sempat ke kamar, langkahku dihadang oleh seorang kakek tua yang berjubah putih, rambutnya sangat panjang dan menutupi seluruh wajahnya. Dan dia membawa tongkat kayu untuk menopang tubuhnya, rupanya bunyi tadi berasal dari kakek ini, karena sebelah kakinya pincang. Sehingga jalannya terseyek-seyek.
Aku terpekik kaget, aku berusaha melarikan diri namun kakiku sulit sekali digerakkan seperti ada yang menyihirnya supaya lumpuh. Kakek tua itu semakin mendekatiku. Ketika ia menyibakkan rambutnya, tampaklah wajah Nanpa mata, hidung, dan mulut/alias rata. Dilehernya banyak sekali belatung yang menggerogoti lehernya. Benar-benar pandangan yang mengerikan.
“A…a…anda…si….si….siapa…??.”
Suaraku seperti menghilang. Aku tak bisa berteriak. Hanya kata-kata itulah yang dapat ku ucapkan.
“Kau telah masuk kekamarku Nanpa seijinku.”
“Apa maksud Anda …a…a…a…aku tidak me…ngerti dengan apa yang Anda bicarakan.”
“Kau telah masuk ke kamar rahasiaku. Tidak ada seorangpun yang boleh masuk ke kamar itu, dan hukuman bagi orang yang lancang sepertimu adalah….mati!!.”
Kakek tua itu langsung mencekikku, aku berusaha dengan sekuat tenaga melepaskan Nangannya dari leherku namun, Nangannya begitu kuat mencengkeram leherku. Aku baru ingat bahwa tenaga manusia biasa tidak dapat melawan tenaga makhluk halus. Aku membaca takbir, sholawat, dan ayat kursi di sela-sela tenagaku yang hampir habis. Pasalnya aku sudah diambang kematian karena cekikan yang teramat kuat itu.
Ternyata takbir, sholawat, dan ayat kursi yang ku baca berhasil membuat kakek tua itu kepanasan dan melepaskan genggamannya dari leherku. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, aku berusaha lari dan menjauhi kakek tua yang bermuka rata itu. Aku lari…lari…dan lari sekuat tenagaku sambil meminta pertolongan, namun sia-sia, karena waktu masih menunjukkan pukul 3 pagi. Orang-orang dikota itu masih terlelap tidur.
Aku benar-benar lelah, nafasku kejar-kejaran, aku berhenti dan bersandar disebuah pohon. Belum hilang rasa lelahku, tiba-tiba hantu itu muncul lagi dihadapanku. Dia langsung mencekik kembali leherku. Aku kembali membaca ayat-ayat Allah itu. Saat dia kepanasan aku berusaha lari lagi. Sambil berlari, aku tak henti-hentinya membunyikan ayat-ayat Allah. Karena aku lihat dia tidak berani mendengar lafadz Al-Qur’an tersebut.
Aku belari terus …dan terus berlari…entah sudah berapa lama aku berlari. Aku sudah tidak berani lagi berhenti dan beristirahat. Meski aku sudah sangat lelah. Kakiku lecet-lecet bajuku kotor terkena lumpur karena saat berlari, aku sempat terjatuh beberapa kali.
Tenaga aku benar-benar terkuras, aku sudah tidak kuat lagi untuk berlari, aku terjatuh dan sulit sekali untuk bangun. Aku pasrah jika aku mati, detik itu juga. Karena hantu muka rata itu sudah berdiri di hadapanku, dia mendekati aku, dia menjulurkan Nangannya tepat keleherku aku memejamkan mata dan berdo’a semampuku agar kematian tidak menjemputku hari ini.
Aku terus memejamkan mata dan berhara-harap cemas namun, aku tak merasakan Nangan kakek tua itu mencekik leherku. Lama sekali aku terpejam, akhirnya kubernikan diri untuk membuka mata aku tidak melihat hantu kakek tua bermuka rata itu. Aku aru sadar bahwa saat itu mentari telah bersinar.
“Terima kasih Tuha, do’aku telah Kau kabulkan.” ucapku dalam hati.
Kemudian aku melihat sekelilingku. Aku merasa daerah ini, tempatku berdiri saat ini sudah tidak asing lagi. Saat aku sedang dalam kebingungan ada seseorang yang menghampiriku.
“Astaga…Vana!! Ngapain kamu disini?” kata Rena kaget.
“CeriNanya panjang Re.” jawabku.
“Ya udah, mendingan kamu ikut kerumahku, kamu tenangin diri dulu , baru setelah itu ceritakan semuanya ke aku ya.” pinta Renan.
Aku hanya mengangguk dan menuruti kata-kata Renan. Di rumah renan aku menceritakan semua kejadian yang semalam kualami. Dengan runtut aku ceritakan semua kejadian Nanpa ada satupun yang terlewatkan.
“Kenapa kamu nggak cerita dari dulu sich Van? Aku khan bisa bantu” keliahaNan penyesalan Renan.
“Nggak pa-pa kok Re. Aku nggak mau merepotkan kamu.”
“Sekarang aku antarin kamu pulang. Kamu ambil barang-barangmu langsung pindah kesini. Aku takut nanti malam kamu dikejar-kejar lagi sama hantu muka rata itu.”
“Thank’s ya Re, bantuannya, aku nggak tahu gimana seandainya nggak ada kamu.”
“Udah deh nggak usah dipikirin.”
Hari itu juga aku langsung berkemas-kemas dibantu oleh Renan sahabat baikku. Dengan begitu berarti aku akan bisa terlepas dari teror hantu muka rata. Ah..semoga ini merupakan pengalaman pertama sekaligus terakhir bagiku.
Kismis Edisi 3

BUS HANTU
Oleh: Krisnawati (XIIA)

Gadis lugu dan cantik ini bekerja di pabrik tekstil di Semarang jauh dari kota asalnya, Surabaya. Sebut saja namanya Radisti. Hampir tiap 1 bulan sekali Disti pulang ke Surabaya untuk mengunjungi keluarganya. Di Semarang itu tiap tinggal di rumah kontrakan yang sangat sederhana. Disti sudah terbiasa hidup mandiri saat di pabrik ia berbincang-bincang dengan teman seprofesinya tentang rencananya nanti malam untuk pulang ke Surabaya.
“Kamu beneran mau pulang ke Surabaya nanti malam Dis?” tanya Kania temannya.
“ Iya, emang kenapa? Kamu mau ikut juga?” jawab Disti.
“Enggak, nanti malah merepotkan kamu. Aku cuma kawatir kalau kamu pulang malam-malam, sekarang rawan banget kecelakaan, apalagi kamu naik bus. Kenapa kamu nggak berangkat besok pagi aja. Dis?” tanyanya lagi.
“Aku males banget kalau harus berdesak-desakan dalam bus,” jawabnya
“Tapi, kamu khan bisa minta tolong di antarkan oleh Andre, dia kan pacar kamu. Lagian kamu kan cewek sangat riskan jika cewek bepergian sendirian,” sahutnya lagi.
“ Aduh, khawatirmu berlebihan deh. Udahlah nggak apa-apa koq Nia. Tenang aja lagian aku sudah biasa koq. Kalau minta tolong ke Andre kasihan dia. Dia kan sudah lelah bekerja seharian masa’ harus kutambahi lagi dengan mengantarkan aku. Bisa-bisa pingsan dia nanti,” canda Disti.
Saat malam tiba, Disti telah mempersiapkan segala keperluan selama dia pulang. Setelah berpamitan ke Nia, Disti berangkat dan nunggu bus di halte dekat rumah kontrakannya. Tapi aneh, tidak biasanya dia meninggu bus lewat selama ini. Sebab biasanya begitu banyak bus yang lewat situ. Kadang belum sampai tempat duduknya hangat, bus sudah lewat dan diapun sudah di bus untuk menuju tempat tujuannya.
Dua jam berlalu. Dan jam tangannya menunjukkan pukul 23.00. dengan perasaan gundah dia tetap menunggu dan berusaha bersikap tenang. Tak lama kemudian ia di kejutkan oleh sapaan hangat seseorang dari balik kaca helm.
“Hai Dis, lagi ngapain malam-malam begini duduk sendirian di halte?” Tanya suara itu. Ternyata Andre yang baru pulang dari kerja, mungkin dia kena lembur.
“Eh…Mas Andre. Lagi nungguin bus lewat” jawab Disti setengah terkejut.
“Buat apa nungguin bus, enakan nunguin aku. Memangnya kamu mau kemana, mau pulang ke Surabaya?” tanya Andre.
“Emm.. maunya. Iya Mas aku mau pulang ke Surabaya sebab tadi pagi aku dapat telfon memberi tahu kalau ibu sekarang lagi sakit. Tapi nggak tahu nih sudah hampir 2 jam aku menunggu tapi tak satu pun bus yang lewat,” gerutu Disti.
“Koq malam sekali sih. Besok khan masih ada waktu untuk kamu pulang. Lagian kamu nggak takut pulang sendirian malam-malam. Bagaimana kalau aku antarkan?” Andre menawarkan jasa.
“Nggak usah Mas, aku nggak mau merepotkan kamu. Mas kan sudah cukup capek hari ini. Mas pulang aja istirahat biar besok bisa bekerja lagi dengan giat.”
“Oke kalau nggak mau. Tapi bagaimana kalau aku temenin kamu sampai bus yang kamu in ginkan lewat?”
“Boleh aja.”
Dan Andre pun turun dari motornya. Mereka duduk berdua di bawah halte. Ngobrol ngalor ngidul entah apa yang mereka bicarakan. Tak lama kemudian ternyata bus jurusan Surabaya, yakni bus yang ditunggu Disti lewat. Andre menyetop bus itu.
“Bang, ini jurusan Surabaya khan, tolong ini teman saya mau ikut masih ada tempat khan?” Tanya Andre.
Kondektur hanya memandang dengan sorot mata aneh kepada Andre. Tidak menjawab sepatah katapun. Andre tak peduli karena biasanya memang kondektur ya begitu itu berlagak cuek. Tapi tidak bagi Disti. Ada sesuatu yang janggal pada kondektur itu. Sebab sekilas dilihatnya sorot matanya kosong. Tapi Disti tak ambil pusing. Dia tidak menunggu jawaban kondektur tersebut sebab menurutnya kalau memang tidak ada yang kosong masa’ bus ini mau berhenti. Sebelum naik diliriknya nopol bus. Dicatatnya dalam fikiran. Hal ini biasa Disti lakukan. Jaga-jaga barang kali ada kejadian yang tidak diinginkan.
“Oke. Mas Andre aku berangkat dulu ya?” pamit Disti.
“Hati-hati ya Dis. Nanti kalau sudah sampai di Surabaya telpon aku ya, biar aku tahu kabarmu” pesan Andre.
“Pasti!” jawab Disti singkat.
Disti langsung mencari duduk, tiba-tiba angin berdesir menerpa rambutnya. Bulu kuduk Disti tiba-tiba berdiri. Ia heran kenapa ada angin semilir ya padahal jendela bus tertutup semua. Akhirnya Disti mendapatkan tampat duduk di deretan nomor empat sebelah bapak-bapak kira-kira umur 40 tahunan.
Disti mulai merasa keanehan dalam bus ini. Ia mencoba melihat sekelilingnya. Mata mereka semua terbuka artinya belum ada yang tidur. Tapi mengapa mereka tidak saling ngobrol ya? Ia melirik ke depan melihat sopir dan keneknya terlihat di kaca wajah mereka pucat pasi. Dan lebih aneh lagi semua penumpang memakai baju yang seragam, putih semua! Meski modelnya bermacam-macam.
“Bapak darimana? Ini bus haji ya Pak koq semua memakai baju putih?” tanya Disti pada Bapak yang duduk di sebelahnya.
Tapi Bapak itu hanya tersenyum hampir-hampir mirip menyeringai. Disti merasa agak merinding dibuatnya. Lebih kaget lagi ketika kenek mencolek dirinya hampir saja dia melompat saking kagetnya. Disti cepat bisa menguasai dirinya ini berarti kenek ini meminta ongkos darinya. Distipun memberi uang 100 ribuan, dan kenek itu memberikan kembalian.
“Terima kasih” ucap Disti dan kenek itu hanya tersenyum, ya senyum yang mirip senyum bapak di sebelahnya.
Entah Disti semakin merasakan keanehan. Tapi untunglah itu tak berlangsung lama karena sebentar kemudian Disti sudah terlelap. Mungkin karena terlalu capek bekerja serta menunggu tadi sore. Disti bangun ketika dirinya ada yang mencolek, dengan sigap dia membuka matanya. Ternyata dia sudah sampai di terminal Surabaya. Diliriknya jam tangan ternyata menunjukkan pukul 04.00. masih terlalu larut untuk melanjutkan perjalanan. Tapi sebentar kenapa koq dia sampai pukul 04.00 ya padahal dengan perhitungannya jika berangkat dari semarang pukul 23.30 mestinya sampai di Surabaya pukul 07.30. ah, mungkin sopirnya ngebut, dasar sopir nggak eman sama nyawa. Disti Melepaskan penat duduk di peron terminal. Dia masih heran dengan kejadian-kejadian yang dialami. Disti mencoba menelpon Andre .
“Hallo,” kata andre di telpon .
“Hallo mas aku sudah tiba di Surabaya, udah gitu aja ya aku cuma mau ngabarin kamu aja koq” jelas Disti.
“Ya udah Dis, kamu hati-hati ya sayang, kalau kamu nanti sudah sampai rumah telfon aku lagi ya. Aku harus tahu kalau kamu sudah pasti selamat sampai rumah. Oh ya kamu pulang kapan nanti aku jemput ke Surabaya?” tanya Andre.
“Aku pulang lusa, ya udah mas aku tunggu lusa di Surabaya ya. Bye mas Andre”
“Bye sayang,” tambah Andre.
Setelah selesai menelfon Andre, Disti merasa haus meyerangnya. Dia langsung ambil botol minum yang dikasih Bapak sebelahnya tadi. Namun alangkah terkejutnya ternyata air didalam botol tersebut telah berubah warna merah. Disti mengamati dan membukanya, spontan dia membuang botol itu karna warna merah darah baunya anyir.
“Ahhhh…..” teriak Disti bersamaan dengan membuang botol tersebut. Mendengar teriakan Disti seorang petugas terminal datang menghampiri Disti dan mencoba menenangkannya.
“Mbak….mbak ada apa kok teriak-teriak?” tanya petugas itu.
“Itu ….itu pak ada darah di botol minum saya,” kata Disti sambil menunjukan botol yang di buangnya.
“Lho memangnya tadi nggak ya?”
“Nggak pak, tolong saya takut”
“Nggak usah takut mbak ada saya, memangnya mbak dari mana mau kemana?” tanya petugas itu selanjutnya.
“Saya baru tiba dari semarang, mau ke Surabaya,” jawab Disti .
“Trus mbak naik bus apa, dari tadi nggak ada bus yang tiba satu pun,” kata petugas itu heran.
“Saya barusan turun jurusan semarang-surabaya. Plat nomornya saya ingat betul yakni S1125DO. Mungkin bapak waktu itu tidur sehingga tidak tau ada bus tiba,” kata Disti .
“Saya sama sekali tidak tidur sejak tadi sebab ini waktu saya jaga. Tapi sebentar mbak kalau nggak salah plat yang mbak sebutkan itu bus yang kecelakkan tadi malam sekitar pukul 20.00, hei Jo sini kamu!” petugas itu memanggil temanya.
“Ada apa kok panggil-pangil, aku no” tanya orang yang di panggil Jo.
“Aku mau tanya benar nggak dengan bus yang plat nomor S1125DO itu yang kecelakaan kemarin, kamu lihat berita televisinya khan?”
“Benar sekali emangnya ada?” tanya jo selanjutnya.
“Nah benarkan mbak naik bus yang kecelakaan tadi?”
“Disti makin merinding mendengar penuturan petugas itu. Dalam kelakutannya ia mengeluarkan uang kembalian dan hanya ada kapas yang penuh dengan darah. Seketika Disti pingsan.
Dan saat dia sadar dia sudah di rumah orang tuanya. Dia ceritakan yang semua dialami pada keluarganya
“Makanya Dis, lain kali kalau pulang jangan malam-malam untung saja kamu nggak di bawa ke kuburan tapi di bawa ke terminal,” nasehat bapak Disti.
Disti hanya meringis ketakutan. Ya memang beruntunglah Disti tidak di ajak ke akhirat oleh mereka yng kecelakaan. Setelah kejadian tersebut, Disti jera untuk pulang malam-malam dan dengan sangat terpaksa ia minta pacarnya, Andre untuk mengantarkan pulang karena ia masih trauma untuk naik bus lagi …

Selamat Datang

Anda masuk ke dalam komunitas Majalah Kamus,majalah yang dikelola oleh Siswa-siswi MI. MTs.MA. Al-Musthofa Canggu Jetis Mojokerto