Tampilkan postingan dengan label Keajaiban Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keajaiban Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Januari 2016

Bagian Otak Manusia yang Membuat Dusta



Pernah melihat iklan tentang rasa sebuah produk mi instan? Orang tersebut selalu berbohong. Maka ditempelkan peralatan pada lidah dan bagian tertentu pada tubuhnya dan disuruhlah orang tersebut makan mi instan tersebut. Kenyataannya meskipun orang tersebut ngomong NGGAK ENAK tap hasil pemindaian orang tersebut dusta karena sebetulnya makan terswebut enak.
Atau pernah mendengar atau membaca tentang kedustaan seseorang yang menjadi tersangka atau saksi pada sebuah tindak kejahatan. Banyak cara dikerahkan untuk mengetes orang ini berdusta atau tidak.
Metode untuk mengorek kebenaran telah dikembangkan oleh banyak ilmuwan karena ini menyangkut dengan keselamatan dan ketentraman hidup manusia. Tapi yang lebih membingungkan adalah sebenarnya terletak di manakah pada otak bagian yang menjadi memori untuk berpikir agar mulut manusia berbicara dusta.
Selama ini, para ilmuwan tidak mengetahui di bagian otak mana pada manusia yang paling bertanggung jawab terhadap sebuah dusta atau kebohongan. Orang hanya tahu kalau dusta itu muncul dari sebuah ucapan, tapi tidak mengetahui kalau itu ada hubungannya dengan bagian tertentu dalam otak. 
Setelah melakukan penelitian, akhirnya para ilmuwan menemukan sebuah kesimpulan. Bahwa, otak bagian depan yang terletak pada ubun-ubun itulah yang paling bertanggung jawab terhadap terjadinya dusta.
Kesimpulan ini, sebenarnya tergolong sangat telat jika dibandingkan dengan apa yang sudah diisyaratkan oleh Allah SWT. dalam firman-Nya, Al-Qur’an. Bagian otak tersebut disebut Al-Qur’an dengan nama ‘nashiyah’ atau ubun-ubun.
Yang mengagumkan adalah bahwa Al-Qur’an sejak berabad-abad yang lalu telah berbicara tentang fungsi ubun-ubun ini ketika membicarakan Abu Jahl:
Allah swt. berfirman dalam Surah Al-‘Alaq ayat 15 dan 16.
“Ketahuilah, sungguh jika Dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.
Al-Quran memberikan sifat mendustakan lagi durhaka. Kenyataan seperti inilah yang ditemukan para ilmuwan pada masa sekarang ini dengan menggunakan pemindaian resonansi magnetik.
Maha Suci Allah Yang telah menyatakan fakta ini yang menunjukkan kemukjizatan Al-Quran yang baru ditemukan pada masa sekarang ini.

AL-QUR’AN & RELATIVITAS WAKTU



Shobat semua pasti kenal yang namanya Albert Einstein. Ilmuwan dari Jerman yang sanga terkenal dengan rumus E=MC2. Karena teori inilah diciptakan sebuah mesin pembunuh yang dinamakan dengan bom atom. Meledak di Kota Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945. Karena bom ini kedua kota di Jepang ini hancur lebur hingga sekarang tidak bisa ditanami kecuali dengan menambahkan tanah baru di atasnya.
Albert Einstein mengemukakan suatu teori yang dinamakan dengan Teori Relativitas Waktu yang dikemukakannya pada tahun 1905. Satu dasawarsa kemudian, Einstein yang didaulat Majalah Time sebagai tokoh abad XX itu mencetuskan teori relativitas umum. Secara sederhana teori ini mengemukakan bahwa sebetulnya waktu bukanlah sesuatu yang tetap. Shobat menyangka bukan waktu yang ditunjukkan oleh jam adalah sama dan tetap dimanapun tempatnya. Namun ternyata menurut Albert Einstein waktu tidaklah absolutmelainkan bisa berubah tergantung keadaan. Sedangkan yang membuatnya berubah adalah gerak dan ruangnya.
Inti pemikiran kedua teori tersebut menyatakan dua pengamat yang bergerak relatif terhadap masing-masing akan mendapatkan waktu dan interval ruang yang  berbeda untuk kejadian yang sama. Kerelativan ini misalnya Shobat dengan teman Shobat yang naik kendaraan.
Shobat menyangka yang bergerak adalah teman dan mobil Shobat. Tapi coba tanyakan pada teman Shobat yang bergerak bukannya dia karena dia diam saja di dalam mobil yang bergerak adalah mobilnya dan Shobat dianggap bergerak olehnya karena Shobat semakin menjauh.



  
Teori ini sangat berkaitan dengan cahaya yang kecepatannya mencapai 300.000.000 m/s. Coba Shobat bayangkan lagi di antara pesawat Shobat dan permukaan bumi ada sebuah cermin yang selalu mengikuti kemanapun pesawat Shobat pergi. Jika Shobat menembakkan laser ke arah cermin dan dipantulkan kembali ke pesawat, dari sudut pandang Shobat laser tersebut terlihat bergerak lurus ke bawah ke arah cermin dan lurus kembali ke atas menuju pesawat. Tetapi dari sudut pandang saudara kembar Shobat laser tersebut tidak terlihat tegak lurus namun membentuk “V” karena saat pesawat menembak dan menerima kembali lasernya pesawat tersebut berada di dua posisi berbeda.
Disini letak keunikannya. Laser yang bergerak membentuk huruf “V” memiliki jalur yang lebih panjang dibanding laser yang bergerak tegak lurus. Kecepatan cahaya selalu sama. Berarti dari sudut pandang saudara kembar Shobat laser tersebut membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali ke pesawat dibandingkan sudut pandang Shobat. Dan jika Shobat dan saudara kembar Shobat sama-sama menggunakan jam untuk mengukur waktu perjalanan laser tersebut, jam Shobat akan menunjukkan waktu yang lebih singkat daripada jam saudara kembar Shobat. Artinya jam Shobat bergerak lebih lambat dari sudut pandang saudara kembar Shobat. Dari sudut pandang Shobat kecepatan jam tetap sama. Perbedaan ini disebut dengan Time Dilation/Dilasi Waktu.
Lebih jelasnya lagi ada percobaan yang dinamakan dengan Kisah perjalanan Si Kembar atau  dilatasi waktu.
Twin Paradox adalah suatu theori hasil pemikiran  oleh Albert Einstein berbasis theori relativitas khusus yang sampai saat ini masih menjadi perdebatan para pakar fisika. Theori tersebut secara keseluruhan menggambarkan kisah perjalanan dua saudara kembar yang berpisah. Salah seorang dari saudara kembar (A) tersebut tinggal di Bumi dan saudara kembar lainnya (B) terbang keluar angkasa kesebuah planet di tata surya yang jauh dengan kecepatan cahaya dan kembali ke bumi dengan kecepatan yang sama. Setelah mereka bertemu kembali di bumi mereka menemukan fakta bahwa umur si kembar yang mengadakan perjalanan (B) lebih muda daripada umur saudaranya (A) yang tetap tinggal di bumi, disebabkan si B mengalami phenomenon time dilation atau fenomena dilatasi waktu  dalam perjalanannya.



 


Time dilation (dilatasi waktu) adalah fenomena, dimana seorang Observer di satu titik melihat, bahwa jam dari orang yang bergerak dengan cepat menjadi lebih lambat (atau cepat), sebenarnya hal tersebut tergantung dari frame of reference di mana dia berada. Time dilation dapat di ketahui hanya apabila kecepatan mengarah kepada kecepatan cahaya dan sudah dibuktikan secara akurat dengan unstable subatomic particle dan precise timing of atomic clocks.
Sebetulnya apa yang Kamus kemukakan di atas adalah sebuah penemuan yang sama sekali tidak mengejutkan umat Islam, sebab jauh 11 abad sebelum teori relativitas waktu dikemukakan Albert Einstein, ada tokoh Islam yang bernama Al-Kindi telah memberikan teori ini dalam sebuah bukunya. Untuk lebih jelasnya baca rubrik Tokoh Islam.
Hal ini tentu tidak mengherankan karena di dalam al-Qur’an telah ada beberapa ayat yang berbicara tentang relativitas waktu:
“Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu menurut perhitunganmu.” (Al Qur’an, 22:47)
“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (Al Qur’an, 32:5)
“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.” (Al Qur’an, 70:4)
Dalam sejumlah ayat disebutkan bahwa manusia merasakan waktu secara berbeda, dan bahwa terkadang manusia dapat merasakan waktu sangat singkat sebagai sesuatu yang lama:
“Allah bertanya: ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menjawab: ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’ Allah berfirman: ‘Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui’.” (Al Qur’an, 23:122-114)
Fakta bahwa relativitas waktu disebutkan dengan sangat jelas dalam Al Qur’an, yang mulai diturunkan pada tahun 610 M, adalah bukti lain bahwa Al Qur’an adalah Kitab Suci.
Apalagi kalau Shobat mengingat lagi kisah Isra’ Mi’raj Nabi SAW. Dalam semalam menempuh perjalanan begitu jauh. Ke sidratul muntaha, bukankah tempat ini adalah tempat terjauh dari yang terjauh?
 Karena kebenaran Al-Qur’an itu, konon diakhir hayatnya Einsten secara diam-diam juga telah  memeluk agama Islam. Dalam sebuah tulisan, Einstein mengakui kebenaran Al-Quran. “Al-Quran bukanlah buku seperti aljabar atau geometri. Namun, Al-Qur’an adalah kumpulan aturan yang menuntun umat manusia ke jalan yang benar. Jalan yang tak dapat ditolak para filosof besar,” ungkap Einstein.  Wallahualam...(Heri Ruslan dan beberapa sumber lainnya)


Keajaiban Al-Qur’an yang Lain




Dalam Kamus edisi-edisi yang kemarin selalu mengemukakan tentang keajaiban Al-Qur’an dalam bidang keilmuan sehingga bisa dibuktikan dan diteliti oleh siapa saja yang mau berkecimpung lebih dalam dalam kepakarannya.
Berikut ini kamus akan memaparkan kepada Shobat semua beberapa keajaiban Al-Qur’an yang lain dimana keajaiban ini tidak bisa ditandingi oleh kitab suci agama lain.

1.    Tidak berubah
Al-Qur’an, dari dulu hingga sekarang, tidak pernah berubah. Tidak berubah, baik bertambah ataupun berkurang, walaupun hanya satu huruf saja.
Mustahil merubah isi Al-Qur’an. Jika satu huruf saja berubah, pasti seluruh muslim dari penjuru dunia akan protes. Mengapa bisa? Karena Al-Qur’an sudah dihafal oleh jutaan orang di seluruh dunia. Mengubah Al-Qur’an seumpama ada orang yang mengatakan, “Eh, Ka’bah itu di Jakarta loh!”. Alih-alih percaya, orang itu langsung dicap sebagai pembohong. Kenapa begitu, karena sudah ramai orang tahu bahwa Ka’bah itu terletak di Makkah.


Gambar Al-Qur’an
 Lalu, apa istimewanya dengan ketidakberubahan isi Al-Qur’an? Shobat, Al-Qur’an bukan diturunkan 10 atau 50 tahun yang lalu. Al-Qur’an telah diturunkan secara berkala hingga komplit pada 14 abad lebih yang lampau. 14 abad lebih bukanlah rentang waktu yang sebentar. Di rentang waktu yang panjang itu terjadi berbagai macam perubahan sejarah dan kebudayaan, pergolakan politik, hingga peperangan yang bisa memberikan pengaruh terhadap perubahan isi Al-Qur’an. Bahkan usaha-usaha pemalsuan Al-Qur’an pun sudah pernah dilakukan. Seperti yang dilakukan oleh Musailamah Al Kadzdzab. Sehingga untuk mempertahankan keaslian Al-Qur’an dalam rentang waktu yang lama tersebut bukanlah perkara yang mudah. 
Kalau sekiranya Al-Qur’an bukan mukjizat, pastilah dia sudah berubah isinya. Seperti yang terjadi pada kitab-kitab suci lain, yang tidak cuma berubah satu-dua ayat, tapi juga berubah menjadi banyak versi!

2.    Mudah dihafal
Selain tidak berubah, Al-Qur’an juga mudah untuk dihafal. Mudah dihafal, bukan hanya bagi para orang dewasa, tapi bahkan bagi anak-anak balita. Betapa banyak kita temukan anak balita yang sudah mampu menghafal Al-Qur’an. Bahkan anak usia SD pun sudah banyak yang hafal 30 juz Al-Qur’an.
 Masih kecil sudah hafal Al-Qur’an bukan cuma cerita manusia-manusia hebat zaman dulu, tapi juga berlaku buat zaman sekarang. Dengan mata kepala sendiri kita melihat betapa banyak anak-anak yang hafal Al-Qur’an, walaupun bukan orang Arab, walaupun tidak bisa bahasa Arab. Di dunia ini terdapat jutaan orang hafal Al-Qur’an, di Libya saja terdapat 500 ribu penghafal Al-Qur’an.
 Kalaulah Al-Qur’an bukan mukjizat, pastilah dia tidak bisa dihafalkan. Seperti kitab-kitab suci agama lain yang tidak bisa dihafal. Jangankan oleh orang awam/anak-anaknya, pemuka agamanya sendiri pun tidak hafal!

3.    Tidak membosankan
Yang tidak kalah aneh juga adalah, Al-Qur’an tidak pernah bosan untuk dibaca. Benar-benar aneh. Saya sendiri tidak tahu mengapa bisa begitu?  
Padahal setiap muslim minimal membaca Al-Qur’an surat Al Fatihah minimal 17 kali sehari (karena shalat fardhu sehari semalam berjumlah 17 rakaat), atau sebulan sekitar 500 kali, atau setahun lebih dari 6000 kali. Kalau usia Shobat 20 tahun berapa kali Shobat sudah membaca Al Fatihah? Silakan hitung sendiri.
 Itupun belum ditambah dengan pembacaan surat Al Fatihah di shalat-shalat sunnah, di wirid/dzikir, di dalam doa-doa, atau di dalam murajaah. Itupun bukan cuma surat Al Fatihah, semua surat di dalam Al-Qur’an tidak ada yang membosankan. Semuanya selalu enak dibaca. Tidak ada rasa bosan sama sekali walaupun diulang-ulang terus.


 Jika Shobat penggemar novel, berapa kali Shobat membaca ulang novel kegemaran Shobat? pernah sampai 100 kali ulangan saja? Jika Shobat penggemar musik, berapa kali Shobat menyanyikan ulang lagu kegemaran Shobat? pernah sampai 1000 kali saja?

Kalaulah Al-Qur’an bukan mukjizat, pastilah dia sudah menjadi kitab yang membosankan untuk dibaca. Seperti kitab-kitab agama lain yang sudah ditinggalkan ummatnya sendiri. Jangankan baca sampai ribuan kali, jangan-jangan mereka belum pernah baca kitabnya sendiri secara kesuluruhan walaupun cuma sekali.

4.   

Isinya benar semua
Yang bisa membuat kita semakin yakin akan kemukjizatan Al-Qur’an adalah kebenaran yang terkandung di dalamnya. Shobat, isi Al-Qur’an itu benar semua. Dari sisi sejarah, misalnya, Al-Qur’an banyak menceritakan sejarah kaum-kaum sebelum diturunkannya Al-Qur’an. Seperti sejarah Fir’aun, sejarah kaum Aad, kaum Tsamud. Semua itu ternyata telah terbukti benar. Al-Qur’an juga menceritakan masa depan, yang satu persatu telah terbukti saat ini. Seperti terbuktinya tentang kekalahan Romawi yang diceritakan dalam Surat Ar Rum.
 Di sisi sains/teknologi juga begitu. Sains modern terus mengungkap kebenaran Al-Qur’an. Seorang pakar embriologi asal Kanada, Keith L. More, terpukau dengan ayat Al-Qur’an yang bercerita tentang proses pembentukan bayi di dalam perut ibu. Logikanya, bagaimana mungkin seorang Muhammad yang hidup di abad ke-7 bisa tahu tahapan-tahapan perkembangan bayi yang baru diketahui pada abad 20?. Allah SWT pun memberikan hidayah kepadanya, sekarang beliau bukan cuma sebagai ilmuan muslim, tapi juga sebagai seorang da’i.
 Sesempurna apapun buatan manusia, pasti terdapat kekurangannya. Kalaulah Al-Qur’an bukan kalamullah, pastilah Al-Qur’an itu banyak kurangnya, sehingga perlu dikoreksi.
 Kalaulah Al-Qur’an bukan mukjizat, pastilah terdapat pertentangan yang banyak di dalamnya. Seperti yang terjadi pada kitab-kitab suci lain, sehingga sering di revisi. Masak kitab suci direvisi?? Aneh banget.

5.    Tidak ada yang bisa buat
Sampai sekarang, belum ada yang bisa buat satu surat yang yang serupa dengan Al-Qur’an. Padahal ilmu sastra sudah jauh berkembang, ilmu sains apalagi, ilmu sejarah juga. Andaikan sastrawan terhebat, saintis terpintar, sejarawan kawakan, dan pemuka agama kondang berkumpul (ditambah pentolan-pentolan jin kalau perlu), pastilah mereka tetap tidak mampu membuat yang serupa dengan Al-Qur’an, walaupun hanya satu surat saja. Al-Qur’an memang benar-benar ajaib! (khalifahma.wordpress.com)

Sabtu, 19 Desember 2015

Bagian Otak Manusia yang Membuat Dusta



Pernah melihat iklan tentang rasa sebuah produk mi instan? Orang tersebut selalu berbohong. Maka ditempelkan peralatan pada lidah dan bagian tertentu pada tubuhnya dan disuruhlah orang tersebut makan mi instan tersebut. Kenyataannya meskipun orang tersebut ngomong NGGAK ENAK tap hasil pemindaian orang tersebut dusta karena sebetulnya makan tersebut enak.
Atau pernah mendengar atau membaca tentang kedustaan seseorang yang menjadi tersangka atau saksi pada sebuah tindak kejahatan. Banyak cara dikerahkan untuk mengetes orang ini berdusta atau tidak.
Metode untuk mengorek kebenaran telah dikembangkan oleh banyak ilmuwan karena ini menyangkut dengan keselamatan dan ketentraman hidup manusia. Tapi yang lebih membingungkan adalah sebenarnya terletak di manakah pada otak bagian yang menjadi memori untuk berpikir agar mulut manusia berbicara dusta.
Selama ini, para ilmuwan tidak mengetahui di bagian otak mana pada manusia yang paling bertanggung jawab terhadap sebuah dusta atau kebohongan. Orang hanya tahu kalau dusta itu muncul dari sebuah ucapan, tapi tidak mengetahui kalau itu ada hubungannya dengan bagian tertentu dalam otak. 
Setelah melakukan penelitian, akhirnya para ilmuwan menemukan sebuah kesimpulan. Bahwa, otak bagian depan yang terletak pada ubun-ubun itulah yang paling bertanggung jawab terhadap terjadinya dusta.
Kesimpulan ini, sebenarnya tergolong sangat telat jika dibandingkan dengan apa yang sudah diisyaratkan oleh Allah SWT. dalam firman-Nya, Al-Qur’an. Bagian otak tersebut disebut Al-Qur’an dengan nama ‘nashiyah’ atau ubun-ubun.
Yang mengagumkan adalah bahwa Al-Qur’an sejak berabad-abad yang lalu telah berbicara tentang fungsi ubun-ubun ini ketika membicarakan Abu Jahl:
Allah swt. berfirman dalam Surah Al-‘Alaq ayat 15 dan 16.
“Ketahuilah, sungguh jika Dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.
Al-Quran memberikan sifat mendustakan lagi durhaka. Kenyataan seperti inilah yang ditemukan para ilmuwan pada masa sekarang ini dengan menggunakan pemindaian resonansi magnetik.
Maha Suci Allah Yang telah menyatakan fakta ini yang menunjukkan kemukjizatan Al-Quran yang baru ditemukan pada masa sekarang ini.

Selamat Datang

Anda masuk ke dalam komunitas Majalah Kamus,majalah yang dikelola oleh Siswa-siswi MI. MTs.MA. Al-Musthofa Canggu Jetis Mojokerto