Tampilkan postingan dengan label Cerpen Remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Remaja. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 November 2016

Puasa

Oleh : Fara Diba XIPA

Allah mulai menyelimuti bumi dengan gelap namun tiada gulita sebab Dia pun telah menabur berjuta-juta bintang di angkasa raya sebagai pelita yang sungguh indah. Malam ini memang begitu indah sehingga mungkin tak akan terlupa bagiku yang tengah menikmati indahnya malam di penghujung jendela kacaku. Tetapi mungkin karena kantuk telah melanda aku membaringkan tubuhku ke kasur. Sebelum tidur aku masih memandangi gugusan bintang di langit sejenak terbesit apakah bintang-bintang itu menempel pada langit laksana cat air pada kanvas dan bagaimana bila bintang-bintang itu berjatuhan. Namun semua itu sirna, tiba-tiba pandanganku mengarah kepada sebuah benda di samping jendela, entah benda apa itu, yang jelas benda itu ditutupi debu tebal sangat tebal sehingga benda itu nampak abstark. Aku menghampiri benda tersebut dengan perlahan bak aktris sinema elektronik. Aku usap debu yang menyelimuti benda itu, oh ternyata benda itu ialah buku harianku, maklum  telah lama aku tak menyentuh buku tersebut oleh karena itu buku harianku pun tertutup debu tebal. Ku buka buku harian itu, seluruh isi buku tertulis rapi indah bertinta hitam tetapi ada pula yang merah, goresan tinta merah tersebut menggodaku untuk membacanya
*A*
Senin, 01 Juli 2013
Huft, Sanadi kamu tahu nggak hari ini tuh hari yang sungguh membuatku malu, apalagi pada ummi masa aku sudah tsanawiyah sudah baligh pula tetapi menjalani puasa sunnah aja belum bisa. Huh semoga hari ini tak terulang lagi deh. Aamiin
Usai membaca isi buku harian aku langsung tersenyum-senyum sendiri dan mengingat masa laluku ketika aku duduk di bangku kelas satu madrasah tsanawiyah terapalah-apalah lah kalau dibilang.
*A*
Pagi itu sungguh pagi yang begitu panas. Daripada aku lari-larian main yang nggak jelas mending aku nulis Al-Quran karya tanganku sendiri aja, tetapi salah seorang temanku mengajakku ke kantin, tanpa berpikir panjang ajakan itu pun ku terima dengan senang hati.
“Kamu mau beli apa Ra?” tanya temanku, Azza sembari melihat menu minuman
“Hmm, enggak ah”
“Lho, kenapa?”
“Gapapa”
“Kenapa sih? Kamu lagi nabung, aku traktir deh”
“Enggak deh Za, makaci”
“Kenapa, sih, Ra? Kamu puasa yah?”
“Hmm, yah begitu lah”
“Alah gapapa, toh nggak ada yang tahu. Orang tua kamu kan di rumah” bisiknya ke telingaku
“Ih enggak ah, takut dosa mah Zahranya atuh”
“Nggak papa Zahra, enak lho panas-panas gini beli es”
“Ayo Zahra, hmm enak... seger” sambungnya
Hmm, kesegaran minuman Zahra terasa melewati tenggorokanku, dinginnya, sejuknya, terasa menggoda. Terpaksa aku yang sedang tergoda pun mengiyakannya,  “hmm iyah deh. – Bi, Es cincaunya satu yah”
Sementara Azza tengah asyik meneguk es miliknya, bibi datang membawa segelas es cincau yang berwarna hitam kemerah-merha dengan dua buah bongkahan es krisal khasnya. Sanubariku berperang beda pendapat, apa yang harus aku lakukan, menghabiskan es yang nyata-nyata menggoda didepanku atau ... pikirku.
“Eh Zahra diminum dong” ajak Azza padaku
“Hmm, iyah” jawabku sambil menyeruput ragu es milikku
***
Aku duduk di sofa tamu rumahku sembari berbolak-balik menatap jam dinding dengan raut muka gelisah
“Duh... Ummi pulang dari mengisi pengajian pukul berapa yah? Aduh” keringat bercucuran dari pori-pori kulitku terutama keningku, bahkan perutku pun terasa mulas karena rasa bersalah yang menyerang seketika
Tak lama kemudian, Ummi tiba berjalan kaki “Assalammu’alaikum, Zahra sudah pulang nak?”
“Emm... Sudah Ummi tadi ada rapat dewan guru di madrasah mangkanya murid-murid pulang cepat”
“Oh gitu toh... Eh, bagaimana puasa sunnah Zahra? Masih lanjut kan?”
Nah, karena pertanyaan Ummi tersebut bibirku terkunci erat. Aku bingung mau jawab apa. Tadi sebelum Subuh aku memang sahur dan niat puasa sunnah Senin dan Kamis bahkan aku pun telah berdoa agar aku kuat menjalankan ibadah puasa ini. Tapi masalahnya aku tidak kuasa melihat temanku minum es. Air liurku menetes, oleh karena itu aku memutuskan untuk buka puasa sebelum waktunya
“Bilang nggak yah. Bilang... enggak... bilang... enggak, enaknya bilang apa enggak yah sama Ummi?”
“Zahra? Zahra masih kuat bukan?” Sambung Ummi padaku

“Emm... Iya Ummi, Zahra kuat”
Duh, jadi bohong deh. Aku bingung. Bila aku berkata jujur khawatir Ummi jadi nggak bangga lagi denganku, masa sudah kelas tujuh puasa sunnah nggak kuat
*IF*
Allahu Akbar... Allahu Akbar...
Adzan magrib telah berkumandang, menyuarakan ajakan kepada penghuni semesta untuk segera menunaikan sholat.
“Alhamdulillah, puasa hari ini tuntas yah” Ummiku mengucap hamdalah seraya menyiapkan hidangan makanan buka puasa.
“Hmm iya Ummi. Ada rendang kesukaan Zahra dipadu kerupuk udang dan nasi hangat, mak nyuus deh, nyam nyam. Ummi memang koki yang luar bisa”
“Ah Zahra bisa aja ngerayu Ummi. Udah ah, mari kita baca doa buka puasa dan sebelum makan dulu”
“Andai Abi di rumah pasti bisa buka puasa bareng juga yah Ummi”
“Iyah, kasihan yah Abi ngisi pengajian di luar kota dari habis Dzuhur sampai sekarang belum pulang-pulang. Semoga Allah selalu memberi Abi kesehatan yah”
“Amin”
Usai menunaikan sholat Magrib aku dan Ummiku mengaji bersama. Rumahku memang selalu diisi dengan berbagai kegiatan ibadah, supaya hidup kian berkah kata ummi. Setelah mengaji Ummi mengobrol santai denganku
“Eh, Zahra tahu nggak kalau kecilnya Abi itu lucu deh. Masa pernah tuh, Abi lagi puasa Ramadhan, lalu waktu siang nggak kuat kan, Abi langsung lari ke sumur belakang rumah. Lalu minum air sumur itu deh. Glek... Glek... Glek, hehehe itu artinya Abi mokel kan. Waktu Eyang tanya sama Abi, Abi menjawab puasanya masih kuat. Tapi nggak lama kemudian, perut Abi mules dan bolak-balik ke belakang. Saat itulah Abi mengaku bila sebenarnya Abi sudah buka puasa duluan dengan air sumur makanya perut Abi mules”
Deg. Kenapa ummi berpikir begitu yah. Pikirku. Jangan-jangan
“Ummi... hmm... Zahra mau ngaku aja deh, sebenarnya... Puasa sunnah Zahra tadi nggak komplet. Zahra tadi beli es di madrasah”
Ummiku hanya tersenyum bijak “Kenapa? Zahra lapar?
“Enggak sih, Zahra cuma kepengen aja gara-gara lihat temen-temen jajan es, gitu aja sih. Hmm, maaf yah Ummi kalau Zahra sudah bohong”
Ummi mengambil mencubit pipiku dengan lembut. “Lain kalau jika waktu puasa sunnah, kalau lagi jam istirahat alangkah lebih baiknya Zahra tidak perlu ikut ke kantin. Zahra bisa pergi ke masjid atau perpustakaan bukan? Inysa Allah nggak bakalan ada godaan yang bikin Zahra mokel lagi. Satu lagi, Allah mengajarkan kita untuk selalu jujur. Jangan berbohong, apalagi untuk urusan seperti ini. jujur saja pada Ummi. Insya Allah kita sama-sama belajar untuk saling memperbaiki diri, oke?”
“Siap Ummi. Eh, sebenarnya Ummi udah tahu yah kalau Zahra mokel?”
“Udah dong. Soalnya tadi Ummi cek dompet Zahra, uang saku Zahra tinggal seribu padahal uang saku Zahra tiga ribu kan? Hmm, Ummi kok merasa Zahra jajan yah di madrasah”
“Wah, Ummi berbakat jadi detektif!”
Aku dan Ummiku tertawa serempak. Sungguh keluarga yang harmonis. Dengan kejujuran di dalamnya membuat hidup semakin berkah.
*IF*
Ha? Ya Allah ampunilah dosa hamba sebab dahulu hamba pernah mokel diwaktu kecil.
Aku langsung berlari mencari-cari Ummi. “Ummi, Zahra minta maaf sama Ummi” Aku memeluk Ummi yang tengah berbincag dengan Abi
“Zahra, Zahra kenapa nak?”
“Zahra” sambung Ummiku
“Kamu ini kenapa toh Ra?” tanya Abi
“Enggak kenapa-kenapa Bi, Zahra tadi nemuin buku harian Zahra, Zahra baca, ternyata dulu Zahra pernah mokel Bi” Jelasku pada Abi
Ummi tersenyum-senyum “Itu kan dulu Zahra, yang penting kan sekarang kamu tak pernah mokel lagi. Hmm, Abimu dulu juga pernah kok”
“Ih apaan sih Ummi” Abi menyenggol bahu Ummi
“Ih benarkan Bi. Hmm, jadi gini yah Zahra, Abi pula nih, jadi yang lalu biarlah berlalu, yang penting sekarang kita sama-sama belajar tak melakukan hal itu”
“Tapi Mi”
“Tapi?”
“Tapi...”
“Sudahlah Zahra, tiada apa. Kemarin adalah pembelajaran untuk kita semua”
Aku mencium tangan Ummi dan Abiku “Maafkan segala kesalahan Zahra yah Bi, Ummi”
“Iyah nak” jawab mereka bersamaan.(*)

Jumat, 29 Januari 2016

Menghujam Jantungku



Oleh: Desy Lusiana (XI IPA)

Aku ingin menceritakan sepenggal kisah tentang diriku, tentang aku yang hidup dengan jantung seorang pria. Jantung itu selalu berdegup ketika aku sedang sedih, ketika aku sedang sendiri. Namaku Olivia, dulu aku pengidap penyakit jantung, entah apa yang membuat jantungku tak bisa normal seperti orang-orang awam. Setiap hari aku hanya bisa terkulai lemas di atas ranjang sambil menunggu ada pendonor yang mau merelakan jantungnya untukku.
Tiada hari yang istimewa untukku. Semuanya membosankan, setiap hari aku hanya ditemani laptop, alat-alat tulis, gitar dan sebagainya. Hanya tulisan-tulisan dalam diariku, coretan-coretan kecil dimana-mana, lagu-lagu ciptaanku dan semua hasil karyaku tanpa bercurah. Aku memang bisa dibilang pandai dalam bidang tulis-menulis. Tapi aku tak pernah ingin menunjukkan hasil karyaku kepada orang lain. Akupun memiliki semua yang aku inginkan hanya satu yang aku tidak punya, yaitu kebahagiaan.
Suatu hari, aku nekat keluar rumah dengan keadaanku yang tidak stabil. Aku berjalan menyusuri jalanan mulus melewati komplek tempat aku tinggal. Belum jauh dari tempat tinggalku rasanya kaki ini sudah mulai tak kuat menompang berat tubuhku, nafasku mulai tak beraturan. Aku duduk di tepi jalan, sambil membiarkan kakiku berselonjor ditepi trotoar.
Tiba-tiba ada yang datang, dia memanggilku dari kejauhan “Oliv, Oliv!” serunya sambil berlari menghampiriku, aku yang sedang merehatkan tubuh hanya bisa menengok dan tak menghiraukannya.
Aku lihat dia tengah berlari ke arahku, “Hai kamu Oliv kan? Putrinya bapak Frans?” tanyanya ketika sudah dihadapanku, aku yang merasa tidak asing dengan wajahnya, namun aku lupa akan namanya segara menjawab, “Iya saya sendiri, maaf Anda siapa ya?” jawabku seraya mencoba berdiri, tapi mungkin karena tubuhku menolak hampir saja aku terjatuh untung saja dengan sigap dia memegang tanganku agar aku tidak jatuh.
“Aku Fariz, apa kamu sudah lupa? Aku teman kamu waktu di kampung dulu? Ingat?” jawabnya sambil menuntunku dan membawaku kembali kerumah.
“Oh putranya om Heru? Iya saya ingat, bagaimana kabarmu Riz? Dan kamu sekarang tinggal dimana?” tanyaku disela nafasku yang tersengal-sengal.
“Alhamdulillah, baik kok. Kebetulan aku baru pindah ke rumah yang berada di depan rumah kamu.”
“Eh iya kamu ngapain disini Oliv, kamu kan sedang sakit, sebaiknya kamu istirahat di rumah, nggak baik jalan-jalan gini, apa lagi kamu sendirian!” Sambungnya.
“Aku bosan di rumah Riz, ayah dan ibuku selalu melarangku main keluar rumah, yah akhirnya aku keluar tanpa sepengetahuan mereka, by the way, makasih ya sudang menolong aku.” Timpalku.
“Iya sama-sama Liv, sudah kewajiban aku buat menjaga kamu dari dulu, iya kan?” jawabnya sambil terus menopangku agar tidak jatuh dan mengantarkanku pulang.
Fariz adalah anak dari sahabat ayahku ketika dulu kami masih tinggal di desa. Dia juga yang selalu menjagaku setiap saat. Tujuh tahun yang lalu kami pindah ke kota karena kantor ayah memindahkan tempatnya bertugas. Jadi kami menetap di kota dan kini Fariz ikut ke kota karena dia kuliah dan kebetulan ayahnya sedang mengembangkan bisnis di sini. Jadi dia pindah bersama keluarganya ke kota dan kebetulan rumahnya di depan rumahku. Dia diberi amanat oleh ayahku yang kini sedang berada di luar kota untuk bekerja. Mungkin beliau khawatir pula dengan aku. Tapi tak apalah toh ini demi kebaikanku pula.
Sesampainya di rumah ternyata ibu menunggu di depan pintu dengan raut wajah yang sangat tegang, ketika melihatku di bopong oleh Fariz, ibu langsung menghampiriku dengan perasaan cemas. Fariz pun berpamitan karena harus membantu ayah dan ibunya membenahi barang-barang.
“Saya pamit bu, tadi kan baru datang, mau bantu papa sama mama dulu, besok saya ke sini lagi!” serunya.
“Iya Nak, terima kasih sudah mengantar Olivia pulang!” Jawab ibu yang dibarengi senyum manis.
“Sama-sama bu.” Dia melempar senyum dan berlalu.
Ibu yang sedari tadi khawatir langsung membawaku ke kamar.
“Kamu kemana saja Oliv, ibu khawatir sama kamu! Kalau kamu mau keluar bilang sama ibu, lagian kamu kan belum sehat betul sayang.” Tanyanya penuh kecemasan.
“Maafkan aku Ibu, aku kayak gini karena aku bosan di kamar terus, aku bosan jalani hidup seperti ini, harus selalu menunggu, menunggu dan menunggu. Oliv capek bu!” jawabku.
Ibu lalu memelukku. “Maafkan ibu nak, maafkan ibu yang tidak bisa memberimu kebahagiaan”. Kamipun larut dalam kesedihan.
Keesokan harinya aku di kagetkan dengan adanya boneka kucing Doraemon yang tiba-tiba ada di sampingku, aku lihat tidak ada nama pemberinya

Tok tok tok...
Terdengar suara ketukan pintu kamarku, aku pun bangun dan membukakan pintu itu.
“Pagi manis!” suara itu mengagetkanku, dan ternyata dia adalah Fariz.
“Haduh Fariz, kebiasaan deh. Ada apa?” tanyaku,
“Nih buat kamu, gimana bonekanya? Suka?” tanyanya kembali sambil memberiku sebuah bunga mawar cantik.
“Oh, jadi kamu yang ngasih aku boneka itu? Makasih ya Fariz aku suka banget, tahu aja kalau aku suka banget sama Doraemon.” Jawabku sembari memberi senyuman manis.
“Iya dong aku nggak akan lupa kesukaan sahabatku yang manis ini” jawabnya sambil membalas senyumku. Dia memandangiku lama dari biasanya, tatapan matanya berbeda dari tatapan mata biasa. Aku yang sadar akan tatapan mata itu segera mengajaknya masuk dalam kamar. Kami berbincang-bincang lama sekali sambil melepas rindu. Wajar saja setelah 7 tahun kami tidak bertemu, kami sangatlah rindu.
 “Itu gitar? Kamu bisa mainnya apa?” tanyanya sambil menunjuk gitarku yang tersandar di
sisi tempat tidurku yang lain.
“Bisa dong, kalau kamu?” jawabku sambil mengangkat gitar itu dan memberikannya pada Fariz ”pasti bisa dong! Kita nyanyi bareng yuk!” jawabnya. Kemudian dia mulai memetik satu persatu senar gitar itu dengan lembut.
“Segenap hatiku kepersembahkan untukmu
Seluruh jiwa ku persembahkan untukmu
Sepenuh cintaku merindukan dirimu
Seutuh gejolak membakar hatiku
Seperti cahaya hadirmu di duniaku
Seperti ribuan bintang yang menghujam jantungku.”

“Kau membuatku merasakan indahnya jatuh cinta
Indahnya dicintai
Saat kau jadi milikku
Kau takkan kulepaskan
Dirimu oh cintaku
Teruslah kau bersemi didalam lubuk hatiku.”
           
Kamipun terhening setelah menyanyikan lagu favorit.
“Ternyata lagu favorit kita sama Riz” ucapku sambil melempar senyum kepadanya dia hanya tersenyum dan melanjutkan memetik gitarku melantunkan lagu santai yang membuatku larut dalam iramanya.
Hari-hariku tak lagi sepi semenjak Fariz menemaniku. Dia selalu menghiburku, dia selalu memberiku kejutan-kejutan manis. Dia seperti malaikat yang diturunkan oleh Tuhan untuk bahagiakanku. Aku tak lagi merasa sakit sendiri, dia menjadi semangatku untuk melawan penyakit ini. Meskipun dokter belum menemukan pendonor. Dan hidupku juga divonis tak akan lama lagi. Namun aku tak takut di situ ada Fariz yang membuat hari-hariku penuh dengan kebahagiaan dan lebih bermakna.
Suatu ketika, Fariz diajak oleh papanya untuk ikut mengembangkan bisnis di luar negeri dan menetap disana, aku ingin sekali ikut, karena aku tidak ingin kehilangannya untuk kedua kali.
“Fariz aku ikut!” teriakku sehingga membuatnya menoleh dan menitikkan air mata.
“Tidak Oliv, kamu harus di sini, kamu harus menjalankan pengobatan di sini, aku mau kamu sembuh!” jawabnya. Kemudian aku menangis, dia pun menghampiriku yang terkulai lemas berpeluh-peluh.
Dan dia memelukku, “Aku mencintaimu Oliv, aku akan kembali untukmu!” ucapnya sambil memelukku erat-erat.
“Aku juga mencintaimu,” tiba-tiba, dadaku terasa sakit sekali rasanya aku tak bisa menahannya.
“Aaakkkhhh” teriaku sekenanya, entah apa yang terjadi sesaat kemudian aku tak sadarkan diri.
Beberapa hari kemudian aku siuman. Aku tak tahu di mana keberadaanku sekarang, orang yang pertama kali aku lihat di sampingku ialah ibu.
“Ibu aku di mana?” tanyaku dengan suara yang sangat berat, karena aku merasa lemas sekali.
“Kamu dirumah sakit sayang, kamu telah mendapat donor jantung, kamu akan sehat kembali sayang!” ibu melempar senyum disela tangis bahagianya. Aku hanya bisa membalas senyum itu. Lalu teringatku dengan Fariz.
Dimana dia? Kenapa dia tidak ada bersama keuargaku dan keluarganya yang sedang berada disini?
“Fariz dimana bu? Kok dia tidak ada di sini? Apa dia benar-benar keluar negeri meninggalkanku?” tanyaku penuh rasa ingin tahu.
“Dia sudah beristirahat dengan tenang Nak, dia yang mendonorkan jantung buat kamu!” jawabnya. Aku yang masih lemah hanya bisa menangis, aku mencoba berteriak namun aku tak sanggup. Aku hanya bisa menangis, aku mencoba mengikhlaskannya.
Ibu yang dari tadi melihatku termenung dan menangis, dia hanya bisa melihatku.
“Oh iya sayang, sebelum Fariz mendonorkan jantungnya untukmu, dia menitipkan ini pada ibu untuk kamu!” sambil memberikan sepucuk surat dari fariz untukku.
“Olivia, sekarang kamu pasti sudah sadar kan? Alhamdulilah, aku senang mengetahui ini. Meskipun aku tak lagi bisa berada disampingmu lagi, tapi percayalah Oliv, jantungku akan selalu menjagamu. Dia yang akan menggantikanku ketika kamu sendiri, ketika kamu sedang sedih. Dan ingatlah Oliv, ketika kamu mengingatku, jantung itu akan berdegup, ketika kamu merasa kesepian jantung itu akan berdegup, ketika kamu merasa sedih jantung itu akan berdegup. Maka kamu akan merasa kalau aku akan selalu ada disampingmu walau ragaku tak menemanimu. Dan bila kau merinduku, ambil gitarmu, lantunkan lagu menghujam jantungku. Maka kau akan merasakan kehadiranku di sampingmu. Karena hanya kamu yang mampu menghujam jantungku.
I Love you Olivia, I Love You.
Aku mencintaimu”
Salam kasih
Fariz

Itu pesan terakhir yang aku dapat dari Fariz. Dan aku akan berusaha untuk selalu menjaga jantung ini. Aku akan merawat jantung ini dengan baik.
Itu yang selalu membuatku semangat dan terus bersyukur dengan di berikannya kesempatanku untuk tetap menjalani hidup didunia ini.
Terima kasih Fariz, ragaku mungkin tak lagi ada jikalau jantungmu tidak ada diragaku. Kukan selalu menjaganya.


Komentar:
Ceritanya berkesan dengan adanya pengorbanan tokoh Fariz, dalam cerita ini dijelaskan pesan moral secara tersirat bahwa pengorbanan tidak selalu menyakitkan, akan tetapi dari pengorbanan mampu memunculkan kebanggaan, kebahagian, dan ketenangan. Hanya yang menjadi masalah kenapa tidak dijelaskan sebab Fariz mendonorkan jantungnya. Ditambah lagi Ide cerita yang berkesan ini tidak didukung dengan penggunaan gaya bahasa dan diksi variatif sehingga bahasa yang dipilih terlihat monoton. Terus berlatih dan gunakan kritikan sebagai motivasi untuk terus maju.

Dinding Buta Membunuh Aroma



 Oleh: Ainun Ainiyah (IXD)
Percikan logat api naga berdecak pada setiap sudut angkasa. Kedua bola hitam putih itu menyorot tirai tirai cahaya emas. Sesaat cahaya itu tergelincir. Namun, cahayanya mengekal. Merangkak terbirit birit di bawah tanah ilalang. Burung pipit berterbangan, mengikat pusaran pusaran rumit tak karuan bak benang kusut. Baskara itu perlahan lahan cahayanya temaram ke paraduannya.  
Saat mentari tertidur tersedu, putri malam terbaring sendiri tersedu. Mencangar gerang merangkaki dinding buta. Merindukan pelangi sutra senja. Mengharapkan 1001 podium mimpi untuk Sang Ayah. Setiap aku melangkah selalu bergandeng dengan tangan mungilmu. Aku ingin berjalan seperti angin. Memberi semilir cinta untuk Ayah.
Malam yang penuh mimpi. Langkahku di setiap jalan terlucut debu. Ayah bersendu  sendiri jemu. Bersandar pada dinding anyaman bambu. Nampak rasa lelah para dirinya. Membanting tulang di setiap pagi hingga malam demi semangkuk nasi. Tubuhnya kurus, hanya berisi tulang dan berbalut kulit. Mimpinya, menjadikan bintang bintangnya berada dalam kebahagiaan. Aku meliriknya dari sudut mataku. Di balik daun pintu setengah terbuka, tubuhnya rengkik kelelahan. Sungguh, keteguhan cintanya sangat tulus. Tak dapat diukur oleh alat apapun.
***
Butiran embun embun itu menetes di rerumputan. Di atas batu rerumputan ini terdapat kelopak mawar tersellip embun. Perlahan lahan ufuk orange mulai Gemelitir angin berhembus dingin, menusuk pori pori kulit. Namun embun dingin itu tidak melebihi kakiku yang lumpuh.
‘Aku merangkaki dinding buta. Mencoba menemukan setitik cahaya. Selama darah ini mengalir, tetap ku coba untuk membongkar dinding itu. Menikmati kehangatan rawa di antariksa.’
Julihat sepang kupu-kupu berkejaran. Terbang menembus kabut. Ia bergerak sampai di ujung puncak. Menikmati nektar-nektar bunga. Aku mencoba untuk tersenyum manis. Berbuat lugas apa adanya.
Ayah membiarkanku berguling di atas rerumputan basan. Tubuhku baralas selembar tikar lais. Lama aku berfikir, apakah hidupku akan terus seperti ini?. Hanya bisa melamun dan bersikap posesif kepada Ayah?. Aku ingin membuka lembaran-lembaran baru, serta puing puing kebahagiaan. Membuka podium kesuksesan untuk Ayah.
Ayah mengajakku keliling desa. Menggendongku tanpa rasa letih. Tangannya menunjuk pada keindahan permadani alam. Tubuhku ia letakkan di atas tanah lapang. Merangkak terbirit-birit di bawah hamparan angkasa.
“Ayo melangkahlah Nak. Jemputlah angan dan impianmu. Lihatlah!, Lembah, gunung, sungai, mereka saling menjaga mimpi. Orang yang memiliki kekurangan bukan berarti segala kehidupannya kurang. Rencanakan impianmu sebaik mungkin, dan laksanakan sebaik mungkin. Impian tidak akn terwujud jika tidak kau laksanakan.” Wejangan yang diberikan Ayah.
Hatiku getir setelah mendengar wejangan Ayah. Menghanyutkan alur nafas setiap gumpalan darah. “Aku tidak sekolah, bagaimana aku bisa pandai?. Aku adalah orang yang tidak berpendidikan.” Ayah menyahutnya “Tidak. pendidikan tidak 100%  menjamin kesuksesan. Banyak orang di luar sana yang jenius. Berlagak sepandai-pandainya manusia. Menjadi orang berpendidikan. Tetapi, hidup mereka belum tentu akan sukses. Keyakinan dan kesungguhan adalah gerbang untuk menakapi gerbang kesuksesan.” Aku menjawab “Baik Ayah, aku tidak akan menyurutkan langkahku, demi meraih mimpiku”. Aku dan Ayah kembali pulang ke gubuk kami.
Senja itu jatuh pada ruang jingga. Sungguh begitu besarnya ciptaan Sang Mestro Agung. Aku berfikir waktu berputar begitu cepat. Berapa kebaikan serta keburukan yang aku jalani setiap hari? Menikmati kehangatan kasih sayang di dalam ruang jingga. Merindukan orang-orang tersayang yang pada akhirnya waktu akan memisahkan kita.
Sunyi. Imajinasiku mulai berkeliaran. Aku berdoa saat cahaya itu  padam “Semoga esok kian rahnat Tuhan memberkati hidupku. Memberikan secercah cahayanya untuk menjalani keterangan jalan hidup .” Menari bersama angin. Perahu-perahu puisi meriak di setiap fikiranku. Jemari-jemari lentik menulisnya dalam kertas-kertas rapuh. Berlayar dalam sahaja dengan ribuan asa. Semua ku untai dalam estitika kata, menebar cinta dalam kata-kata.
Matahari belum terbenam!. Tapi waktu akan terus berputar. Perjalanan demi perjalanan harus ku tempuh. Ayah adalah cahayaku. Tiada kata “Putus Asa” meraih “Cita-cita”.
Batu itu menjerit, tersandung langkah kakiku. Aku tak bisa berdiri. Aku menangis menyerah. Berputus asa mengapa aku menjadi orang cacat?. Sampai kapan aku merenggut kepedihan ini?. Aku rasa Tuhan tidak adil. Sampai aku menunggu pijar pijar itu jatuh di ruang jingga. Hatiku ternyak. Betapa baiknya Tuhan memberi matahari kepada kehidupan bumi. Tuhan Maha penyayang, dia masih memberikan kehidupan bagi InsanNya demi meraih mimpinya. Mataku telah tertutup oleh dinding-dinding buta.
Ayah keluar dari rumah,  mencariku di setiap sudut pantai. “Ayah... Ayah... Aku disini...” Tanganku melambai lambai sebagai isyarat. Ayah berlari kencang. Langkahnya semakin dekat. Dan semakin dekat.
“Apa kamu baik-baik saja Nak?”.
“Aku tidak apa-apa Ayah.”Jawbabku dengan tersenyum manis.
“Maafkan Ayah lupa untuk menjagamu. Membiarkanmu sendiri di depan pantai.” “Itu bukan salah Ayah. Itu pintaku Ayah. Biarkan aku menikmati keagungan Tuhan. Melihat hamparan angkasa bak permadani. Intan-intan permata menusuk tilgram senja. Berumpun di ruang jingga.”
Tangan besi Ayah itu menggendongku di sepanjang pesisir pantai. Getaran-getaran kelumpuhan ini membekukan kepedihan yang mendalam. Sudah 17 tahun aku hidup lumpuh. Tuhan belum memeberiku keajaibannya. Aku tak mau hidup lumpuh  hingga berumpun tua. Harapan dan doa yang aku kuatkan.
Deburan ombak purus saling berkejaran mencumbu pantai. Awan-awan itu berganti menjadi suasana gelap. Hanya ada satu rembulan bertabur gemerlap bintang. Lukisan yang samar di tengah bulan. Nampak sosok perempuan berjubah putih. Tersenyum manis untukku. Perempuan itu memang Ibuku. Seseorang yang mengorbankan jiwanya demi kelahiran anaknya. Menyeret sejarah di zamam dulu. Ku ingin merasakan kehangatan dekapanmu. Namun, aku hanya bisa melihatmu pada keindahan dewi malam.
***
Sang surya masih . Mataku menyorot setiap sudut dinding pantai. Jejeran pohon kelapa menjulang langit. Di ujung barat nampak bebatuan besar menjulang. Sedangkan di ujung utara nampak gunung-gunung berdiri kokoh.
Ayah sibuk menyiapkan kereta kuda kami untuk merantau ke desa sebrang. Mengunjungi makam Ibu yang sudah tua. Kami rindu padanya. “Nak, ayo berangkat.” Ajak Ayah. “Baik Ayah.”
Kami berjalan menyusuri pedesaan. Desa yang indah, rindang, dan sejuk. Para pekebun sibuku menjalankan rutinitas mereka sebagai pendarah dingin. Pundak mereka menggendong keranjang-keranjang besar. Tangan-tangan mungilnya memetik setiap ujung daun teh.
Aku melihat orang yang terjatuh di sampingku. Wanita tua. Kulitnya keriput. Matanya agak samar-samar. Aku meminta ayah berhenti untuk menololng wanita itu. “Nenek, mari saya bantu.” Tanganku mengulur, memberi bantuan agar nenek itu bangkit. “Siapa namamu cu?” tanya nenek itu. “Nama saya Ainun. Saya tinggal di desa sebrang situ Nek.” Kami bersalaman dan perkenalan. “Terima kasih Cu, kamu memiliki hati yang murni. Meski kamu cacat, kamu bisa menolong nenek. Tuhan akan memberikan keajaiban untukmu Cu.” Doa Sang Nenek. “Amin. Terima kasih Nek. Saya pamit dulu mau ke makam Ibu saya.” Pamitku. Nenek itu menghilang di belakangku setelah aku menunjuk makam Ibu ketika di tengah-tengah pembicaraan. Aku berdiri kebingungan. Biarlah, aku melanjutkan perjalananku.
Nampak batu nisan bertulis “Rukmini” dari kejauhan. Batu nisan diam, tergocap terbelah menjadi dua. Bunga-bunga di atas tanahnya nampak kering keemasan. Aku mnghampirinya dalam jangkauan pandanganku. Langkah kami semakin dekat. Menuju batu nisan itu. Kami duduk di atas tanah kering terbelah-belah. Lafadz doa kami lantunkan khusus untuknya. Rukmini. Malaikatku. Pelita kasih sepnjang hidupku. Airmata membanjiri wajah ku dan Ayah. Keikhlasan untuk kepergiannya. Doa kami akan menyinari tanahmu Ibu.
Senja malaikatku
Berpijak jajak seribu cita
Bermusam sendu-sendu cinta
Wajahnya menjelma pancaran cahaya
Tertidur pulas di dalam putri malam
Sutra putih itu,
menghangatkan kerindangan senja
Terbayang pada ruang jingga
 Untaian sajak rindu untuk Ibuku. Setiap waktu, alunan melodi kata-kata mulai terbentuk. Menjadi suatu syair. Mengekspresikan berbagai fenomena. “Nak, ayo pulang. Hari sudah sore.” Ayah menuntunku naik ke kereta kuda. Lirikanku tetap tertuju pada nisan Ibu. “Sudahlah Nak, ikhlaskan Ibu. Ibu tidak butuh kesedihan dan tangisan. Ibu butuh doa kita. Hapus airmatamu itu. Berjanjilah pada Ibu, besok kau akan menjadi anak sukses. Ibu sudah tersenyum tenang.” “Iya Ayah. Aku bisa. Dan aku pasti bisa.”Jawabku. Disitulah dalam hatiku tertegun, menciptakan ikhtiar menuju kesuksesan. Janji sejatiku, pasti akan terwud itu.
Di tengah perjalanan, bintik-bintik air hujan menetes kelopak mataku. Serbuk-serbuk itu makin lama makin deras membuat tubuh Aku dan Ayah basah kuyup. Kami bersinggah sejenak di pos rindang.
“Apa kamu kedinginan Nak?” Tanya Ayah.
“Tidak Ayah. Aku baik-baik saja.”
Serambi menunggu hujan reda, tanganku menulis bait-bait puisi. Panorama zamrud keindahan alam dari pos ini.
Di Bawah Tilgram Ruang Jingga
Dunia bermusam durja
Menghantui  gambaran sosok bayangnya
Membangunkan keteguhan citra
Harum seharum kenanga
Sporadis berubah menjadi awan hitam
Menutupi  Sang dewi malam
Tenggelam dalam keegoisang
Loyalitas memikat di setiap warna jejakku
Memberikan ta’rif kehidupan
Membuka jendela hati
Terbujur kaku dalam fatamorgana cinta
Tergulir semak belukar
Hanya airmata mengalir
bersama serpihan luka  menganga
Membuka lara ...
Meskipun waktu berlalu
Jauh di belakang waktu
Memendam seribu kata
Dalam rindu kelam
Tiba waktunya, hanyalah luka
Hanyalah goresan namamu termaktub
Dalam ulu sanubariku
Badai hujan telah reda. Kami melanjutkan perjalanan pulang. Tangan Ayah menggendong tubuhku duduk di haluan depan.
“Apa yang Kamu tulis tadi?” tanya Ayah.
“Sebuah lantunan bait-bait puisi.” Jawabku.
“Ayah bangga dengan kamu. Pantang menyerah meraih mimpi. Tetap semangat!. Ayah selalu berdoa agar kamu tidak lumpuh. Tuhan pasti akan memberikan keajaibannya.”
“Aku akan meraih 1001 mimpiku untuk Ayah.”
Di tengah obrolan kami, nampak seorang pria melambaikan tangannya. Sepetinya dia adalah seorang pekebun.
“Ada apa Pak? Apa Anda butuh bantuan?” tanya Ayah pada seorang lelaki separuh baya
“Iya. Tolong antarkan Saya pulang. Rumah Saya tidak begitu jauh dari sini.”
“Baik. Dengan senang hati. Ayo naik Pak.”
Mata orang itu melirik Tubuhku. Diriku menjadi takut. Apa yang ada di pikirannya?
“Apa tidak di bawa ke dokter Pak?”
“Tidak. Saya tidak punya biaya. Memeroleh uang saja pas-pasan, hanya untuk membeli semangkuk nasi sehari. Saya bisa merawatnya setiap hari.”
“Kebetulan, Saya tukang pijat. Saya bisa mengobati anak Bapak tanpa biaya. Saya ikhlas menolong.”
“Alhamdulillah. Terima kasih Pak. Besok Saya ke rumah Bapak bisa?”
“Bisa. Berhenti Pak, itu rumah Saya, kelewatan. Terima kasih bantuannya Pak.”
“Iya, jangan sungkan. Rumah Saya di depan pantai itu. Mari Pak!” pamit Ayah
“Baik. Jika ada waktu saya bersilahturahmi ke rumah Bapak.”
“Dengan senang hati.”
***
Usai sembayang Subuh, Ayah membangukanku, menggendongku turun di halaman rumah. Meletakkan tubuhku di bawah pohon trembesi. Membiarkan tubuhku berguling-guling, menikmati sentuhan lembut rumput basah.
“Peganglah Pohon Trembesi itu  pelan-pelan Nak. Ambilah embun sejuk dari rerumputan dan sekakanlah ke kakimu. Jalanlah, sosonglah Ayah. Ayah yakin putra Ayah bisa berjalan.”
Berkali-kali usaha telah gagal. Aku sudah mencobanya, tapi tidak bisa. Kakiku begitu kaku dan tidak bisa di gerakkan.
Beliau sibuk merajang rumput-rumput itu di atas sebilah kemuadian memasukkannya ke dalam ember, memberi segelas air pada kuda itu. Kuda itu meringkik menyambut kedatangan tuannya. Kakinya menendang lantai waktu dia mengusir pikat tali di tubuhnya.
Setiap pagi rutinitasku bergulingan di atas rerumputan tebal. Mencoba melangkah demi langkan memegang pohon Trembesi. Namun kakiku tetap terbujur kaku dalam kelumpuhan.
Kami pergi ke rumah Bapak Shobirin. Tukang pijat yang akan mengobati kakiku. Menyusuri sepanjang jalan. Tebing-tebing munusuk cakrawala. Jalan dipenuhi berbatu-batu besar. Membuat jalan semakin terjal. Di kanan dan kiri adalah jurang menganga. Di bawah tebing curam di tengah jerat serasah, menatap jauh ke atas ke arah batang-batang pohon sambil mendengarkan suara desau angin yang menggelinjang menerpa ranting-ranting pepohonan.
Jalan yang terbentang berakhir. Sampai di latar rumah Pak Shobirin, kami di sambut dangan hangat. Tuan rumah menggendongku dan meletakkannya di kursi. Istri Pak Shobirin bergegas membuatkan   minuman untuk kami.
Tangan Pak Shobirin mulai memijat kakiku. Mulutnya berumik-umik membacakan mantra.
“Terasa sakit?”Pak Shobirin mengurut kakiku. Ia memnjatkan doa meminta mukjizat kesembuhan padaku yang lumpuh.
“Tidak Pak.” Tuturku.
Sungguh, ini kali pertamanya kakiku merasa lemas. Setelah di pijat, perlahan-lahan Pak Shobirin meyuruhku berjalan. Subhanallah. Tubuhnya bersujud  memanjatkan rasa syukur atas kejadian ini. Hatinya berbunga-bunga melihat anaknya bisa berjalan. Air matanya mengalir dari pelupuknya, bergembira melihat penantian 17 tahun akhirnya anaknya bisa berjalan.
Hari sudah sore, kami bergegas untuk pulang. Ayah melecut kuda begitu kencang. Ku pegang pundak Ayah erat-erat agar tidak jatuh. sebaris area lahan hutan yang letak geografisnya sedikit curam melingkari tepian pegunungan tidak dikenal sebagai hutan lebat. Entah saat itu kondisiku  tak sadar. Saat itulah kereta kuda terdampar dalam jurang.
Ketika aku sadar, aku telah berada di rumah nenek tua. Seorang wanita tua yang pernah aku tolong. Ku buka mataku yang sangat berat. Di sekeliling banyak warga menangis. Aku berjalan mencari Ayah. Di mana Ayah?.
Seseorang mengantarku pulang. Dia menawariku untuk bekerja di perusahaaannya. Setelah kejadian kecelakaanku itu, ia membaca buku harianku yang berisi sajak-sajak puisi. Menulis. Itu adalah hobiku. Saat lumpuh yang aku perjuangkan adalah menulis. “Penulis adalah mimpiku”. Meski lumpuh aku juga bisa menulis. Berbagi pelajaran hidup serta kerak kehidupan.
Aku dan lelaki itu membicarakan karya sastra. Berbagai penawaran ia tawarkan padaku. Jika aku menerimanya, aku bisa menjadi penulis. Jujur, dia tertarik membaca karya-karyaku.
Lama aku berfikir, aku meminta restu dulu dari Ayah. Hatiku risau tentang keadaan Ayah. Apa yang terjadi padanya?. Aku bergegas pulang membawa kereta kuda kami yang mumur. Para warga membantu membenahi kereta kuda, agar aku bisa pulang.
Langkan demi langkah menuju setiap sudut ruangan. Di daun pintu setengah terbuka, Ayah menyambut kepulanganku. Aku menemuinya. Diriku lemas, melihat kelumpuhan baru di keluarga kami. Kedua kaki Ayah telah tiada. Aku melihat ada dua kayu alat penyangga menjulur di kakinya. 
“Kemarilah Nak!. Sosonglah Ayah. Ayah senang kamu sekarang bisa berjalan. Kamu bukanlah anak yang lumpuh lagi. Hapuslah kata-kata itu dari benakmu. Putri Ayah sudah bisa berjalan di hamparan tanah. Kau berhasil!. Kaulah kedua kaki Ayah yang baru.”
Ayah masih berdiri di atas tanah kerontang yang diinjaknya. Petir dalam waktu sekelebat menyambar. Hujan terdengar deras menggucur di atas talang. Membasahi semua yang terbuka di bawah langit. Aku menangis berdiri dengan tangan terentang di depannya. Beliau berjuang keras mengangkat kakinya. Tubuhnya goyah di atas kakinya. Air matanya menetes bercampur dengan air hujan yang membasahi pipi Beliau. Beliau tampak ingin melangkah.
“Victoria! Ayo lakukan. Putri Ayah mempunyai kelebihan. Kau memiliki dua buah kaki yang sempurna!. Lihatlah Nak!. Meski Ayah tak mempunyai kaki Ayah tetap berdiri tegak.”
Aku berlari mendekapnya erat-erat. Kedua alat penyangga terlepas dari ketiak Ayah. Tubuhku menopangnya agar bisa berdiri. Tubuhnya semakin kurus. Kakinya sudah tak dapat merasakan tanah di bumi. Ayah dan aku menangis, entah karena kesembuhanku, atau kelumpuhan baru di keluarga kami.
“Ayah, bersediakah Ayah ikut denganku di Ibukota?. Melihat puncak perjuanganku selama ini?. Aku akan selalu merawatmu di sana. Inilah hasil dari perjuanganmu Ayah, membuahkan hasil yang manis. Karyaku menjadi sorotan publik. Kini, aku menjadi penulis Ayah!.”
“Ayah bangga padamu. Jika kau meminta Ayah ikut ke Ibukota Ayah mau. Engkau berhasil meraih mimpimu. Sukses tak datang dari apa yang diberikan orang lain padamu, tapi dari keyakinan dan kerja keras dirimu sendiri. Tiap orang pernah jatuh dan gagal, tapi kamu bisa memilih untuk bangkit lagi atau terus menangisi apa yg terjadi. Jangan menyalahkan orang lain atas kegagalanmu. Kegagalan hanya proses menuju keberhasilan, orang lain pasti ada andil dalamnya.” Cetus Ayah.
“Iya Ayah. Doamu mujarab. Tuhan telah mengabulkannya. Keteguhan cinta Ayah membangunkan mimpiku. Skenario hidup tidak dapat di tebak begitu saja sperti kata Ayah. Dulu, aku sering merutuki diri sendiri. Namun, dengan perjuangan Ayah, kini aku bisa membuka istana kesuksesan. Terima kasih Ayah.”
Tubuh Ayah ku gendong di atas kereta kuda. Ku beri bantal tipis agar tubuhnya tidak sakit. Serambi menunggu hujan reda, aku menyiapkan barang-barang untuk ku bawa ke kota.
Aku duduk di atas kereta kuda kami berdua bersama Ayah. Ku ambil cambuk dan memecut perut kuda. Mengitari gedung-gedung di Ibukota bersama Ayah. Aku mengajak Ayah di gedung pertemuan  konfensi pers. Dalam sekejap, banyak insan yang mengagumi karyaku.
Senyuman dalam diri Ayah menebar dalam titik perjuangannya. Terharu sekaligus bangga melihat kesuksesanku. Semilir cinta ku berikan padamu Ayah. Sekarang, waktunya aku membahagiakannya. Menjawab doa dan segenap harapan yang ia panjatkan. Keregguk kasih sayangmu Ayah.
‘‘Orang menjadi benar benar sangat luar biasa ketika mereka mulai berfikir bahwa mereka bisa melakukan sesuatu. Ketika mereka mempercayai diri sendiri, mereka mendapatkan rahasia sukses pertama.
Ingat ! Jika ingin hasil yang berbeda, lakukan sesuatu yang berbeda.Kini, aku dapat belajar arti kehidupan. Ayah adalah malaikat kiriman Tuhan untukku. Cahaya itu tetap bersinar dimatanya.’’

Selamat Datang

Anda masuk ke dalam komunitas Majalah Kamus,majalah yang dikelola oleh Siswa-siswi MI. MTs.MA. Al-Musthofa Canggu Jetis Mojokerto